Ketua BPK Hadi Poernomo mengatakan, pihaknya akan melakukan pembahasan bersama bank-bank BUMN dan lembaga keuangan untuk bisa meningkatkan kinerja dan efisiensi perbankan dan lembaga keuangan.
"Kita tahu persaingan bisnis perbankan sangat ketat. Untuk meningkatkan kinerja bank-bank harus lebih efisien. Penilaian kinerja salah satu cara untuk mengetahui efisiensinya," kata Hadi saat acara International Symposium on Audit Bank Efficiency di Gedung BPK, Jakarta, Kamis (31/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan melakukan penilaian atas kinerja bank tidak hanya membantu bank untuk lebih memahami efektivitas, bagi pembuat kebijakan melakukan penilaian akan membantu mereka dalam membangun lingkungan yang sehat sebagai dampak dari reformasi ekonomi," ujarnya.
Hadi mengatakan, selama ini industri perbankan di Indonesia memang memainkan peranan penting dalam perekonomian di Indonesia. Misalkan saja, 4 bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI, dan BTN telah memberi kontribusi yang besar melalui setoran dividen.
"Industri perbankan memainkan peranan terhadap ekonomi kita. Bank di Indonesia lebih dari 120-121. Meskipun hanya 4 bank BUMN tapi memberikan kontribusi signifikan. 2012 kontribusi dividen Rp 7,5 triliun," ujar dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, ada beberapa metodologi yang bisa digunakan, seperti pemaparan kerangka kerja regulasi dan pengawasan yang berkaitan dengan efisiensi.
"BPK bertugas memeriksa pengelolaan dana keuangan BI, BUMN, BUMD, dan badan lain yang mengelola keuangan. BPK telah membuat pusat data yang disebut sinergi nasional sistem informasi. Tujuan untuk meningkatkan kualitas BPK. Ini banyak bantuan dari bank bumn melalui pembelajaran IT," kata Hadi.
Acara ini dihadiri Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI Perwakilan dari BRI, Mandiri, BNI, dan BTN, Anggota BPK Bahrul Akbar, Pengamat Perbankan, dan sejumlah Akademisi.
(drk/dru)











































