Masyarakat Indonesia Masih Terlena Iming-iming Bunga Tinggi

Masyarakat Indonesia Masih Terlena Iming-iming Bunga Tinggi

- detikFinance
Kamis, 31 Okt 2013 13:25 WIB
Masyarakat Indonesia Masih Terlena Iming-iming Bunga Tinggi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai jika masyarakat di Indonesia masih suka tergiur dengan bunga yang tinggi dalam menentukan pilihan perbankan. Sehingga bank-bank di Indonesia berlomba-lomba memberikan bunga tinggi untuk bisa menghimpun dana masyarakat.

"Di Indonesia bank-bank memiliki inovasi yang cukup tinggi dalam penghimpunan dana, tapi masyarakat kita masih suka iming-iming bunga tinggi, hadiah, jadi kompetisinya ketat berebut dana," ujar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah saat ditemui di Gedung BPK, Jakarta, Kamis (31/10/2013).

Halim menjelaskan, dengan perebutan penghimpunan dana tersebut sehingga mempersulit perbankan untuk bisa menurunkan biaya dana (cost of fund).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini berakibat sulit menurunkan biaya dana, membuat bunga kredit lebih tinggi dibanding negara lain," kata dia.

Halim menyebutkan, pihaknya punya beberapa kajian untuk bisa menarik dana dari masyarakat dengan cara menata ulang kompetisi menarik dana di masyarakat seperti penyesuaian tentang kondisi geografi, wilayah dan lain-lain.

"Apakah bisa diatur dengan level playing field dengan total size bank dan lain-lain. Ini diskusi dengan OJK dan belum disimpulkan apa-apa. Makanya Dana Pihak Ketiga (DPK) Indonesia didominasi biaya relatif mahal," terangnya.

Selain itu, Halim menambahkan, perbankan juga masih minim untuk bisa berekspansi di luar Pulau Jawa, selain biaya yang lebih mahal, untuk bisa balik modal juga perlu waktu lama.

"Persyaratannya ketat. Di pulau Jawa, ekspansi ketat, tingkat kompetisi tinggi. Di timur Kalimantan dan lain-lain jumlah bank nggak banyak. Ketika bank-bank mau buka cabang, capexnya jadi mahal. Di Jawa, balik modal bisa 2 tahun saja, bahkan ada yang 1,5 tahun. Di luar Jawa agak lama," tandas Halim.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads