Direktur Utama Bank BNI Gatot M Suwondo mengatakan dari sisi perbankan, sebenarnya tidak ada permasalahan. Namun, pertanyaannya apakah masyarakat DKI siap?
"Kalau itu kan cashless berarti bisa menggunakan SMS banking, mobile banking, kartu kredit. Nah kesiapan masyarakat, itu mereka sudah menggunakan nggak? Kalau banknya sih oke-oke aja," ungkap Gatot kepada wartawan di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/11/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kesiapan masyarakatlah itu, anda bisa bayar di warung tegal mau pake kredit itu boleh saja," ucapnya.
Gatot tidak dapat memprediksi dengan tetap rencana tersebut diberlakukan di ibukota. Namun melihat dari tantangannya, menurut Gatot ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Dari branch ke ATM saja kita 7 tahun. Tapi kalau itu nggak sampai 30 tahun lagi lah," sebutnya.
Sementara, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Sofyan Basyir menuturkan penggunaan transaksi non tunai bisa saja terwujud 5-10 tahun mendatang. Di mana saat masyarakat sudah lebih mengandalkan transaksi non tunai dibandingkan tunai.
"Mungkin 5-10 tahun lagi mereka sudah ber-bank semua . Kalau sudah ber bank gampang saja disitu," ujarnya di tempat yang sama.
Dari sisi perbankan, menurutnya tidak ada permasalahan. Karena seperti BRI, telah memiliki berbagai fitur teknologi yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
"BRI sekarang memiliki 900-an fitur, rumah sakit, pajak, kuliah itu sudah gampang semua, pensiun juga sudah di BRI. Jadi pindah-pindahin apa saja itu bisa," paparnya.
Sementara dari sisi masyarakat, menurut Sofyan diperlukan edukasi yang cukup. Teknologi yang diterapkan mulai diperkenalkan kepada masyarakat secara sederhana dan perlahan.
"Ya masyarakat harus siap lah, kan perlahan-lahan kita bawa teknologinya. BRI hari ini membawa teknologi ke pedesaan. Karena memang kita sudah percaya teknologi kita sudah bersanding dengan bank lain," kata Sofyan.
(mkj/dru)











































