BI Rate Naik, Waspada Ekonomi Melambat dan Ancaman Pengangguran

BI Rate Naik, Waspada Ekonomi Melambat dan Ancaman Pengangguran

- detikFinance
Rabu, 13 Nov 2013 16:31 WIB
 BI Rate Naik, Waspada Ekonomi Melambat dan Ancaman Pengangguran
Jakarta - Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate hingga 7,5% berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menuju resesi bila tidak dikelola dengan baik.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendorong agar pemerintah mengeluarkan paket kebijakan dunia usaha, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang dapat mendorong penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan permintaan (demand).

"Potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi sangat terbuka. Apalagi bila pasca kenaikkan BI rate ini, tidak ada paket kebijakan yang efektif dan konkrit yang dikeluarkan pemerintah," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UKM dan Koperasi Erwin Aksa dalam siaran persnya, Rabu (13/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erwin berharap agar pemerintah tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dengan mengeluarkan insentif fiskal dan menggairahkan UKM.

"Yang kita khawatir ini, ekonomi melambat, ancaman pengangguran, belum lagi ada masalah perburuhan. Pendek kata, semua serba melambat. Makanya pasca kenaikkan BI rate ini, giliran pemerintah yang harus bekerja keras mengeluarkan kebijakan dan insentif supaya industri, utamanya UKM tidak terganggu," papar Erwin.

Erwin mengatakan, pasca kenaikan BI rate ini menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk memberi perhatian penuh kepada pelaku UKM.

"Di saat-saat krisis dan ekonomi kita ada gangguan, UKM terbukti mampu menjadi bantalan ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Industri ini harus digenjot lagi," ujar Erwin.

Kadin juga berharap agar perbankan menahan diri untuk tidak segera menaikkan bunga pinjaman, utamanya pinjaman untuk sektor produktif seperti industri kecil dan menengah. Dikatakannya, sejauh ini belum ada tanda-tanda perbankan akan segera menaikkan bunga pinjaman (lending rate).

"Mungkin dampaknya kita akan lihat dalam sebulan ke depan. Sejauh mana pengaruhnya terhadap overhead cost perbankan. Apalagi kita juga tahu efisiensi diperbankan kita masih jadi tantangan, rasio BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) perbankan kita ini masih cukup tinggi," pungkas Erwin.

(dru/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads