"Secara pribadi kami sungguh merasakan tantangan ekonomi yang tidak ringan di tahun 2013 ini. Kami bergabung dengan BI pada 24 Mei 2013 tepat dua hari setelah Chairman dari Federal Reserve memberikan sinyalmen akan mengurangi stimulus moneter (tapering). Sinyalemen yang singkat, namun pengaruhnya mendunia," papar Agus.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan tahunan perbankan yang akrab disebut 'Bankers Dinner' di Gedung BI, Jakarta, Kamis (14/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sambungnya, bank sentral melihat isu global yang mempengaruhi ekonomi Indonesia ini lebih luas dari isu tapering tersebut. Setidaknya ada tiga isu besar ekonomi global yang memberikan ketidakpastian dan tekanan kepada ekonomi Indonesia pada tahun 2013 ini.
"Pertama adalah ketidakpastian mengenai kecepatan pemulihan global," kata Dia.
Perkembangannya hingga kini menunjukkan, pemulihan ekonomi global tidak sesuai harapan, bahkan melambat. Situasi menjadi tidak pasti karena bergesernya landskap ekonomi global.
"Dua tahun silam, kita sempat memperbincangkan two-speed world recovery yakni ekonomi negara maju yang lambat dan ekonomi emerging market yang cepat," tuturnya.
Kedua, lanjut Agus, adalah terkait ketidakpastian yaang meluas seiring ketidaktegasan kebijakan di AS baik terkait penarikan stimulus kebijakan moneter ultra akomodatif maupun penyelesaian batas anggaran dan penghentian belanja pemerintah.
Berlarutnya situasi ini memicu penilaian ulang risiko oleh investor dan menimbulkan reaksi berlebihan yang akhirnya melahirkan gejolak di pasar keuangan global termasuk Indonesia.
"Ketiga adalah berkaitan dengan ketidakpastian perkembangan harga komoditas. Sejalan dengan ekonomi global yang lambat dan pasar keuangan global yang bergejolak, harga komoditas masih melanjutkan tren penurunannya sehingga mempertegas berakhirnya era siklus panjang (super cycle) harga komoditas," paparnya.
Agus lebih jauh mengungkapkan, tiga isu utama ekonomi global tersebut tidak dapat dihindari dan menurunkan kinerja ekonomi Indonesia. Di tengah kuatnya pertumbuhan ekonomi domestik, kuatnya tekanan global mengkibatkan neraca transaksi berjalan mengalami tekanan.
"Neraca transaksi berjalan mulai memasuki defisit sejak triwulan IV-2011. Selanjutnya, merosotnya harga komoditas sejak awal 2012 menekan ekspor sehingga defisit neraca transaksi berjalan membesar," tuturnya.
(dru/dnl)











































