"Jadi kalau semua sistem sudah siap, nanti bisa Jakarta kita mulai tidak boleh tarik cash (tunai)," kata Ahok, begitu sang wakil gubernur, akrab dipanggil.
Masyarakat yang minim menggunakan uang tunai dalam bertransaksi jual beli dikenal dengan istilah less cash society. Bank Indonesia sudah lama menggalakkan pemanfaatan teknologi informasi untuk menggantikan peranan uang tunai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski teknologi sudah tersedia, menurut Direktur Utama Bank BNI Gatot M Suwondo beberapa waktu lalu, kesiapan publik patut diperhatikan. Sepanjang publik siap dan teknologi yang mendukung transaksi nontunai tersedia, maka makan di warung tegal, kata Gatot, pun bisa pakai kartu kredit.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk beralih dari transaksi tunai ke transaksi nontunai? Gatot memprediksi tak sampai 30 tahunan. Tapi Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia, Sofyan Basyir, memprediksi lebih cepat lagi: antara 5-10 tahun.
Masyarakat, kata Sofyan, perlu diberikan edukasi yang cukup. Sementara teknologinya diterapkan secara sederhana dan perlahan. “Masyarakat harus siap dulu lah,” katanya.
Sementara, transaksi nontunai diprediksi akan pelan-pelan mematikan bisnis ritel yang ada saat ini. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia punya prediksi bahwa tren belanja online atau berbelanja di Internet akan dominan.
“Trend belanja online akan meningkat, termasuk konsep bisnis e-commerce,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Pudjianto, beberapa waktu lalu. “Ke depan konsumen tak mau lagi bepergian hanya untuk berbelanja kebutuhan pokok.”
Tanpa duit tunai yang banyak beredar dan dominasi model belanja online, Pudjianto memprediksi bisnis ritel seperti mini market atau toko kelontong bakal ditinggalkan setelah 2020. “Teknologi akan mengubah cara orang berbelanja,” katanya.
Yang jelas, situasi kini memang sedang mengarah ke sana. Menurut riset e-Marketer, pertumbuhan e-commerce di Indonesia termasuk yang terbesar dibandingkan negara-negara lain. Nilai penjualan online di Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai US$ 1,8 miliar, naik 71,3 persen dari tahun lalu.
Soalnya, makin banyak orang-orang seperti Fahmi, seorang pegawai swasta yang tinggal di Jakarta. Dia bilang mulai malas pergi ke pusat perbelanjaan karena macetnya lalu lintas pada akhir pekan, justru ketika dia punya banyak waktu untuk berbelanja dengan keluarga.
Beberapa tahun terakhir, Fahmi lebih suka berbelanja online. “Hanya untuk barang-barang yang tidak dijual secara online baru saya pergi (berbelanja ke pasar atau supermarket),” katanya.
(DES/DES)











































