Mau Praktis, Belanja Online Saja

Negeri Minus Duit Tunai (2)

Mau Praktis, Belanja Online Saja

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 20 Nov 2013 11:50 WIB
Mau Praktis, Belanja Online Saja
Foto: Getty Images
Jakarta - Buka lapak dagangan di kios atau kaki lima? Itu sudah kuno. Setidaknya begitulah menurut Arifin Bakti Nur Rochman, 45 tahun, pedagang produk penyimpanan USB flashdisk.

Arifin menggunakan media online sebagai tempat menjual dagangannya. Menurutnya, potensi pasar online di Indonesia sangat besar dan cerah. “Pasarnya tidak pernah berhenti, peluangnya masih besar,” ujarnya. Apa buktinya?

Arifin bilang, dalam sebulan dirinya bisa jualan dengan nilai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Soalnya, dia memang berdagang dengan partai besar sehingga pemesan produknya umumnya instansi pemerintah maupun swasta, seperti Kementerian Sosial, Bank Indonesia, sampai Batan Tenaga Nuklir Nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemesannya pun lintas daerah dan negara. “Di Singapura yang pesan USB itu kebanyakan asosiasi atau yayasan. Salah satunya panitia Asean Basketball League. Mereka pesan ke saya karena lebih murah dari yang dijual di Singapura sendiri,” kata Arifin.

Jual beli online atau dikenal pula dengan istilah e-commerce memang sedang bertumbuh bagus di Indonesia. Menurut riset e-Marketer, pertumbuhan e-commerce di Indonesia termasuk yang terbesar dibandingkan negara-negara lain. Nilai penjualan online di Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai US$ 1,8 miliar, naik 71,3 persen dari tahun lalu.

Industri online ini bertumbuh seiring makin tak banyaknya waktu yang dimiliki orang untuk berbelanja ke pasar atau pusat perbelanjaan lainnya. Kesibukan dan kemacetan biang keroknya, sehingga meluangkan waktu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari pun sudah sulit.

Begitu kata Fahmi, 30 tahun, seorang pegawai swasta di Jakarta. “Saya hanya punya waktu luang ketika akhir pekan, biasanya dipakai untuk berbelanja bersama keluarga. Namun sekarang pun kalau akhir pekan macetnya bukan main, saya jadi seakan tidak punya waktu istirahat karena terjebak di dalam mobil,” tuturnya.

Oleh karena itu beberapa tahun terakhir Fahmi memilih untuk berbelanja secara online. “Tinggal duduk di depan komputer, browsing barang-barang yang kita cari, pesan, dan tunggu sampai barangnya datang. Hanya untuk barang-barang yang tidak dijual secara online baru saya pergi,” katanya.

Selain praktis, keunggulan belanja online adalah tidak perlu membawa uang tunai dalam dompet atau tas. “Namanya manusia, siapa tahu sedang sial. Kalau bawa cash bisa saja ada apa-apa di jalan. Belanja secara online bisa mengurangi risiko itu,” ucapnya.
 
Menurut hasil kajian lembaga riset SAP yang berpusat di Inggris, sekitar 70 persen responden di wilayah Asia-Pasifik lebih menyukai berbelanja secara online. Indonesia berada di peringkat 12 dalam hal penggunaan media digital untuk transaksi komersial.

Pudjianto, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), menilai aktivitas jual-beli online akan semakin berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Kehadiran berbagai perangkat digital, terutama telepon seluler, mendorong masyarakat berbelanja secara online karena lebih praktis.

“Masyarakat bisa mencari produk yang dibutuhkan dan membandingkan harganya tanpa perlu ke pasar fisik. Tinggal membuka gadget yang terhubung dengan jaringan internet dan mencari produk. Setelah itu, mereka bisa bandingkan harganya dengan toko online lain dan membeli produk yang dia inginkan tanpa perlu repot-repot keluar," papar Pudjianto.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads