Bisakah Indonesia Tinggalkan Dolar AS dan Beralih ke Yuan China?

Bisakah Indonesia Tinggalkan Dolar AS dan Beralih ke Yuan China?

- detikFinance
Sabtu, 07 Des 2013 12:13 WIB
Bisakah Indonesia Tinggalkan Dolar AS dan Beralih ke Yuan China?
Bandung - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukan pelemahan. Ketergantungan rupiah terhadap dolar terjadi karena perdagangan di Indonesia yang masih menggunakan dolar AS.

Bagaimana kalau beralih ke mata uang China, yaitu Yuan? Bank Indonesia menilai yuan sangat cocok jika digunakan untuk acuan perdagangan Indonesia. Pasalnya perdagangan terbesar kedua saat ini adalah dengan China.

"Indonesia bisa saja beralih ke yuan. Cukup layak karena perdaganga kita banya sekarang dengan China. Apapun impor kita sekarang banyak dari China. Jadi Kenapa kita nggak pakai yuan," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Difi Johansyah, dalam diskusi seputar nilai tukar di Hotel Trans Luxury, Bandung, Sabtu (7/12/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perdagangan Indonesia-China, saat ini masih dipergunakan mata uang dolar. Padahal ada kerugian ketika menggunakan dolar. Karena ada 2 tahapan konversi yang dilalui.

"Kalau membeli barang dari China, kita sekarang pakai dolar. Nah, dari rupiah kita konversi ke dolar dan dari dolar itu dialihkan ke yuan. Saat konversi ada cost-nya. Sehingga nilai jadi lebih besar," sebutnya.

Selain itu, untuk negara-negara di luar Indonesia juga cukup banyak menggunakan yuan. Buktinya Lembaga Society Worldwide mencatat mata uang yuan berada pada urutan kedua yang digunakan pada perdagangan di dunia.

"Jika yuan menjadi mata uang perdagangan internasional, itu akan menjadi mudah. Makanya kita bisa langsung pakai yuan," tegas Difi.

Yuan berhasil menyalip Euro meskipun masih berada di bawah dolar. Pertimbangan dolar menjadi acuan mata uang untuk Indonesia, saat ini adalah karena hampir seluruh negara menggunakannya. Akan tetapi, jika fluktuasinya merugikan mata uang lain, maka layak mencari alternatif lain.

"Kenapa pakai dolar, karena dolar itu ada di mana-mana. Tapi problem-nya sekarang adalah volatile. Sekarang dolar perkasa, dua tahun lalu juga jungkir balik," ungkapnya.


(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads