Hari-hari ini nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan yang hebat. Di pasar, rupiah sempat diperdagangkan lebih dari Rp 12 ribu per dolar Amerika Serikat pada pekan lalu. Ini merupakan depresiasi rupiah yang terdalam sejak 2009.
Menurut Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Dari luar negeri, ada sentimen negatif yang salah satunya adalah belum pastinya pengurangan kebijakan stimulus oleh bank sentral AS, yang sering disebut tapering off.
“Perdebatan jadi atau tidaknya tapering off ini menyebabkan risk on-risk off terus terjadi. Kemudian di negara-negara berkembang, khususnya China dan India, ada tekanan pertumbuhan ekonomi,” kata Agus baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chatib Basri, Menteri Keuangan, mengemukakan pendapat senada. “Memang ada tekanan di sisi internal karena kebutuhan valas yang cukup besar. Perusahaan harus membayar utang, impor, dan sebagainya. Besarnya sekitar US$ 6,3 miliar,” kata dia.
Selain itu, faktor seperti membaiknya angka pengangguran di AS menyebabkan investor kembali memburu aset di Negeri Paman Sam. Ini menyebabkan pelemahan sejumlah mata uang terutama di negara-negara berkembang. “Bukan hanya rupiah, tetapi juga rupee, peso, dan baht,” ujar Chatib.
Melihat faktor-faktor tersebut, Agus meyakini bahwa tekanan terhadap rupiah hanya bersifat temporer. “Tekanan terhadap rupiah adalah situasional, kita jangan panik. Pelemahan rupiah masih selaras dengan situasi regional,” tegasnya.
Meski demikian, Agus menilai bahwa Indonesia tetap perlu waspada sambil terus melakukan perbaikan struktural. Di antaranya adalah memperbaiki transaksi berjalan, neraca perdagangan, neraca jasa, neraca pangan, dan neraca energi.
Untuk jangka pendek dekat, Agus menegaskan BI juga tidak ragu melakukan intervensi di pasar untuk menstabilkan pergerakan rupiah. “BI selalu menjaga stabilitas nilai tukar, tidak ragu melakukan intervensi. Kami akan menjaga kurs yang sehat,” tuturnya.
Sementara itu, Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, menyatakan saat ini nilai tukar rupiah tengah menguji level support Rp 12.250 per dolar AS. Jika level itu tertembus, maka kemungkinan depresiasi ke arah Rp 12.800 atau bahkan Rp 13 ribu bisa terjadi.
“Kalau rupiah terus melemah, ada kemungkinan BI Rate dinaikkan lagi. Market belum tentu merespons positif kalau ini sampai terjadi,” tegas Reza.
Menurut Reza, sulit dipastikan apakah pelemahan rupiah hanya fenomena temporer atau bisa bertahan cukup lama. “Ini akan tergantung kebijakan BI dan pemerintah dalam waktu dekat. Kalau belum ada policy yang clear, bisa jadi depresiasi rupiah akan agak lama,” katanya.
(hds/DES)











































