“Bagi industri CPO, pelemahan rupiah berdampak positif karena sebagian besar produksi ditujukan untuk pasar ekspor. Ini juga dialami industri komoditas pada umumnya,” Kata Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Pelemahan rupiah, lanjut Fadhil, membuat produk CPO Indonesia menjadi kompetitif di pasar global. “Namun harus dilihat juga kondisi di negara penghasil CPO lainnya, seperti Malaysia. Kalau di sana mata uangnya juga melemah, kita masih harus berkompetisi dengan mereka. Namun kalau di sana pelemahannya tidak terlalu dalam, CPO Indonesia menjadi kompetitif,” paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian pengeluaran di sektor pertambangan, lanjut Supriatna, memang dalam bentuk valas seperti pembelian alat berat, suku cadang, sampai bahan bakar. Namun secara netto, perusahaan pertambangan tetap mendapat keuntungan karena faktor kurs lebih besar.
“Kemudian dalam empat minggu terakhir harga komoditas pertambangan, khususnya batubara, sedang naik. Ditambah dengan faktor kurs, perusahaan tetap mendapat untung,” tutur Supriatna.
Meski begitu, Supriatna menilai sebenarnya dunia usaha lebih senang apabila kurs stabil. Ini lebih memudahkan dalam melakukan perencanaan bisnis. “Dalam jangka pendek kami memang mendapat keuntungan. Namun pengusaha lebih suka kalau kursnya tetap,” katanya.
Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan masih dihantui ketidakpastian karena faktor eksternal dan internal. “Tapering off, masalah struktural di dalam negeri, dan kebijakan yang belum efektif masih menjadi isu. Kalau belum ada kepastian, fluktuasi rupiah kemungkinan bisa terus terjadi,” kata Fadhil, yang juga seorang ekonom di Institute for Development of Economic and Finance (Indef).
Supriatna juga menilai agak sulit untuk menebak arah pergerakan rupiah ke depan. “Ini tergantung bagaimana kinerja ekspor kita. Kemudian ini sedang musimnya pembayaran utang luar negeri, sehingga kebutuhan dolar AS meningkat,” ucapnya.
(hds/DES)











































