Lembaga Rating Diminta Perbaiki Peringkat Utang Indonesia

Lembaga Rating Diminta Perbaiki Peringkat Utang Indonesia

- detikFinance
Rabu, 24 Nov 2004 12:01 WIB
Jakarta - Pemerintah akan melakukan pendekatan kepada lembaga rating internasional S&P dan Moody's agar memperbaiki peringkat utang Indonesia. Hal itu dilakukan agar biaya peminjaman obligasi internasional yang akan diterbitkan pemrintah lebih murah.Demikian disampaikan Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (Bapekki) Anggito Abimanyau kepada wartawan usai halal bi halal di gedung Departemen Keuangan (Depkeu), Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (24/11/2004)."Kita sedang mengupayakan rating agency itu menaikkan rating kita supaya lebih baik. Kalau bisa lebih baik maka biasanya peminjamannya bisa lebih murah atau spread-nya bisa lebih kceil," kata Anggito.Anggito menjelaskan, pada tahun lalu ketika pemrintah menerbitkan obligasi internasional tingkat bunga yang harus dibayar sebesar 6,8 persen dengan tingkat kupon 6,7 persen. Dengan adanya kenaikan suku bunga AS pada tahun ini, diperkirakan biaya peminjaman akan lebih mahal. Karena itu, sambung Anggito, yang perlu dijaga sekarang ini adalah rating utang Indonesia agar spread-nya lebih kecil.Sementara Menteri Keuangan Jusuf Anwar menyatakan, pemerintah akan sangat berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang berkaitan dengan rencana penerbitan obligasi internasional itu. Hal ini penting agar Indonesia tidak dianggap mencuri start.Jusuf juga mengakui pada waktu-waktu tertentu, dengan jumlah tertentu, diperlukan adanya penerbitan obligasi internasional. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kepercayaan dari investor luar negeri terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.Direncanakan, pemerintah akan melakukan non-deal roadshow menyangkut rencana penerbitan obligasi internasional itu pada tahun depan. Di mana fokus utamanya adalah mengunjungi lembaga-lembaga peringkat internasional. Langkah ini sekaligus dikaitkan dengan persiapan pemerintah menyelenggarakan pertemuan CGI pada Januari 2005 nanti. (djo/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads