Misalnya di bidang industri antaralain mencakup pembiayaan ekspor industri tekstil dengan komposisi 8,81%, konstruksi 5,19%, pertambangan batu bara 5,11%, industri kayu dan hasil kayu 5,01%, perkebunan kelapa sawit 4,72%, tanaman perkebunan 4,6%, industri minyak kelapa sawit 4,5%, pertambangan 3,19%, pengangkutan umum 3,14%, perakitan komponen maritim 2,46%.
Ketua Dewan Eksekutif dan Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank I Made Gde Erata mengatakan selain pembiayaan ekspor barang, pihaknya juga membiayai jasa konstruksi perusahaan dalam negeri untuk proyek-proyek di luar negeri, misalnya proyek King Abdullah Financial District, Riyadh, Arab Saudi, termasuk proyek-proyek pembangkit listrik (powerplant) dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erata menjelaskan perseroan akan fokus membiayai ekspor barang dan jasa yang memiliki nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja. Ia mencontohkan di bidang jasa konstruksi, selain tenaga ahli, mesin, hingga materialnya bisa dipasok dari dalam negeri ke negara tujuan ekspor.
Sedangkan Direktur Pelaksana Senior Eximbank Arifin Indra mengatakan untuk tahun depan pihaknya akan membidik pembiayaan untuk pasar-pasar non tradisional, dalam rangka tetap mendorong ekspor Indonesia, di tengah pelambatan ekonomi global. Salah satunya menggarap pembiayaan proyek jasa konstruksi di luar negeri.
"Istilahnya kalau pembiayaan jasa konstruksi itu banyak gerbong yang bisa ditarik," katanya.
Direktur Pelaksana Eximbank yang menangani UKM, Isnen Sutopo menambahkan Eximbank juga membiayai para pelaku UKM termasuk di sektor tekstil. Saat ini pihaknya sudah memiliki 290 nasabah perusahaan besar, dan 2500 lebih UKM unggulan.
Ia mencontohkan di Jawa Tengah ada beberapa perusahaan seperti mebel atau furnitur, termasuk tekstil kain sarung diantaranya merek Gajah Duduk. Produk kain sarung Indonesia laris diekspor ke Malaysia hingga Somalia. Umumnya UKM yang dibiayai ekspornya mengambil pembiayaan sedikitnya Rp 2 miliar.
"UKM ada yang sudah link ke luar, seperti produk sarung yang levelnya masih rumah tangga, tapi sudah ekspor," katanya.
Sementara itu Direktur Pelaksana Indonesia Eximbank Dwi Wahyudi mengatakan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat pelaku usah eksportir senang, karena mendapatkan pendapatan dalam rupiah yang lebih besar.
"Industri yang berbasis ekspor mereka senyum semua," kata Dwi.
Namun beberapa sektor seperti tekstil/garmen yang masih bergantung dengan bahan baku impor dan ekspor komoditi yang mengalami penurunan harga, terkena dampak kondisi pelemahan rupiah.
Hingga November 2013, Eximbank telah membiayai hingga Rp 37,58 triliun, mencakup 91,89% untuk korporasi dan 7,98% untuk UKM.
(hen/dru)











































