2005, BI Perkirakan Rupiah Stabil di Level Rp 9.000
Kamis, 25 Nov 2004 11:45 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil di level Rp 9.000 meski mata uang dolar AS terus mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang dunia. Kondisi rupiah tersebut dipastikan akan terus terjadi hingga tahun 2005. "Sebetulnya rupiah seharusnya menguat karena melemahnya dolar AS, kemudian karena berdasarkan hitungan kita rupiah under valued sehingga seharusnya rupiah menguat. Tapi karena ada permintaan di dalam negeri, penguatannya tidak sebesar seperti hasil hitungan kita, jadi memang akhirnya rupiah stabil di level Rp 9.000," kata Burhanuddin di Gedung BI, Jakarta, Kamis (25/11/2004). Dalam forum G20, lanjutnya, dirinya telah menyatakan rupiah memang akan berada di level Rp 9.000.Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi hingga 2005, dimana rupiah akan berada di level Rp 9.000 dengan asumsi defisit APBN ada di level 0,8 sampai 1 persen dan inflasi 6,5 persen.Sementara mengenai kebijakan pemeritah AS yang akan membawa dolar AS menguat, Burhan mengatakan, sebaiknya semua pihak tidak memandang kebijakan AS dalam jangka pendek melainkan jangka panjang karena harus ada persiapan yang dilakukan pemerintah AS untuk memperkuat dolar. Terkait dengan kebijakan AS itu, Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin mengatakan penguatan dolar AS tidak akan bisa terjadi tanpa upaya apapun. Apalagi Gubernur The Fed Alan Greenspan mengatakan penguatan dolar AS tidak bagus untuk current account defisit AS. Dengan pernyataan itu, menurut Aslim, semua orang akan lebih memperhatikannya ketimbang pemerintah AS."Orang tentu akan lebih melihat statement The Fed. Artinya kalo Greenspan mengatakan pelemahan dolar AS lebih bagus untuk membenahi current account AS maka The Fed pastinya akan membiarkan dolar AS terjadi," kata Aslim. Dolar sendiri menurutnya saat ini sudah melemah terhadap hampir seluruh mata uang dunia lainnya, seperti Yen dan Euro. Seharusnya melemahnya dolar AS terdampak terhadap penguatan rupiah. Namun penguatan rupiah tidak semata-mata disebabkan faktor eksternal, melainkan internal seperti permintaan korporasi untuk membayar utang. Selain itu saat ini banyak hedge bond sejumlah bank yang jatuh tempo. "Tapi selama permintaan ini masih bisa dipenuhi pasar, maka bisa stabil bahkan menguat dari sekarang. Yang penting indikator makro kita sendiri, kita harus peliharan tingkat inflasi yang terkendali," katanya.Mengenai nilai tukar, Burhan juga menambahkan dalam sidang G20 beberapa waktu lalu juga dibicarakan mengenai fleksibilitas nilai tukar yang ditujukan pada suatu negara. "Kepada negara mana hal ini ditujukan, kita tahu. Tapi pada dasarnya fleksibilitas ini akan memberikan kesempatan kepada negara untuk memilah industri yang kompetitif," kata Aslim.
(nit/)











































