Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Zulkifli Zaini mengatakan bankir Indonesia tak perlu minder dari bankir asing.
"Kalau bankir di Indonesia tidak mampu mengelola bank-nya saya rasa bank di Indonesia sudah bermasalah. Kenyataannya bank di Indonesia tidak bermasalah, NPL-nya (rasio kredit macet) tetap rendah kemudian industrinya tumbuh. Jadi tidak perlu minder dari bankir negara lain," ungkap Zulkifli kepada detikFinance usai acara Harmonisasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di Graha CIMB Niaga Jalan Jendral Sudirman Jakarta, Senin (6/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di pasar bebas ASEAN 2015, saya kira kita tidak usah menyebut bankir dari negara mana. Kita pada dasarnya harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bankir-bankir di Indonesia itu hendaknya bisa bekerja dengan baik terutama di negara kita sendiri," imbuhnya.
Walaupun menurutnya bankir Indonesia hampir sejajar dari negara Singapura dan Malaysia bukan berarti bankir Indonesia harus takut. Tetapi justru kebalikan, dengan besarnya penduduk Indonesia seharusnya negara lain di Kawasan ASEAN khawatir dengan serbuan bankir asal Indonesia.
"Jadi beda misalnya negara berpendudukan terbatas seperti Singapura dan negara lain dimana mereka tidak cukup banyak orangnya untuk masuk ke Indonesia. Kalau ada yang khawatir dari Singapura dan Malaysia bisa masuk ke Indonesia saya tidak terlalu khawatir karena jumlah penduduk mereka berapa sih. Justru kita dengan jumlah penduduk 240 juta itu memiliki potensi untuk bisa ke negara lain," tuturnya.
Namun ada beberapa yang harus dimiliki bankir Indonesia agar menguasai pasar bebas ASEAN. Hal pertama yaitu peningkatan kompetensi dan yang kedua adalah membuat sertifikasi kompetensi.
"Tetapi syaratnya mari kita tingkatkan kompetensi bankir di Indonesia. Jadi jangan terlalu khawatir terhadap bankir asing. Ini kan meningkatkan kompetensi bankir di Indonesia salah satunya adalah bagaimana kita menyiapkan SDM bank-bank di Indonesia agar siap menghadapi persaingan baik domestik maupun regional atau pasar bebas ASEAN 2015," cetusnya.
(wij/dru)











































