Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan secara nasional rasio utang per rumah tangga hanya sebesar 10%. Kemudian jika dihitung wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta rasio utangnya 30%.
"Kalau di Indonesia rasio utang terhadap pendapatan di rumah tangga perkotaan itu masih jauh yaitu sekitar 30%. Jika dihitung secara nasional itu di bawah 10%," ungkap Halim dalam focus group discussion (FGD) di kantor BI, Jakarta, Jumat (17/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dilihat secara statistik itu rumah tangga di Indonesia itu masih bisa dalam membayar utangnya," jelasnya
Jika ada beberapa segmentasi masyarakat yang sulit untuk membayar utang, maka itu akan menjadi kewaspadaan bagi perbankan. BI perlu turun tangan untuk melihat kondisi secara makro ekonomi dan bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kalau ada segmentasi tertentu yang sulit untuk membayar utangnya. Nah itu makanya kita jadikan alert," kata Halim
Ia mencontohkan seperti Korea Selatan yang bermasalah terhadap rasio utang per rumah tangga. Karena pada hitungannya itu mencapai 100%. Indonesia tidak bisa dibiarkan dalam kondisi tersebut.
"Kalau Korea debt to ratio itu di atas 100%, artinya itu sudah bangkrut. Makanya kita harus jaga, jangan sampai kita seperti Korea," ujarnya
(mkl/dru)











































