Benarkan Bitcoin Ganggu Stabilitas Rupiah? Ini Jawaban Trader

Benarkan Bitcoin Ganggu Stabilitas Rupiah? Ini Jawaban Trader

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 22 Jan 2014 07:12 WIB
Benarkan Bitcoin Ganggu Stabilitas Rupiah? Ini Jawaban Trader
Jakarta - Mata uang virtual Bitcoin mulai menarik perhatian Bank Indonesia (BI) untuk terus dikaji perkembangannya. Salah satu risiko yang ditakutkan dari keberadaan Bitcoin adalah pengaruhnya terhadap nilai tukar rupiah. Bagaimana menurut para trader?

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan yang merupakan salah satu trader terbesar di Indonesia menyatakan Bitcoin tak akan membuat nilai tukar melemah. Pasalnya, Bitcoin dalam definisinya adalah media transfer dan bukan mata uang.

"Bitcoin bukan currency tapi media transfer atau komoditas. Ini digunakan kurang dari 10 menit. Jadi tidak akan berpengaruh terhadap nilai tukar. Biaya transfer itu sangat murah. Rp 2000 untuk transfer.," ungkapnya kala berbincang dengan detikFinance, Selasa (21/1/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam prakteknya Bitcoin tetap akan mengacu kepada nilai tukar utama yaitu rupiah. Apalagi untuk digunakan dalam transaksi di dunia nyata. Bitcoin tetap harus ditukarkan dengan rupiah. Meskipun ada fluktuasi akibat supply dan demand.

"Jadi tidak akan melemahkan rupiah," tegasnya.

Bahkan menurut Oscar, bisa saja rupiah terbantu menguat dengan Bitcoin. Sebab jika ada aturan yang cepat dan tepat, maka akan mengundang investor untuk datang ke Indonesia membawa devisa.

Seperti halnya dengan Singapura yang saat ini tengah menyempurnakan aturan dari peredaran Bitcoin. Mulai dari mekanisme transaksi hingga pengenaan pajak terhadap mata uang virtual tersebut.

"Justru ini akan menguatkan rupiah. Karena aturan Bitcoin dari berbagai negara masih dikerjakan. Kalau seandainya kita bisa lebih cepat. Seperti yang dilakukan Singapura. Investor asing akan melirik aturan yang sudah ada," paparnya.

Ia tetap mengembalikan hal ini ke Bank Indonesia (BI) sebagai regulator. Oscar bersama rekannya telah berdiskusi dengan pihak departemen sistem pembayaran BI sehari sebelumnya. Semoga kajian BI mendukung perkembangan Bitcoin.

"Tapi kita kembali ke BI. Kita kemarin kan diajak diskusi santai," terang Oscar.

Sebelumnya European Banking Authority (EBA) menekankan ada beberapa risiko dalam larangan soal Bitcoin ini, antara lain mudahnya 'dompet digital' disusupi virus atau peretas sehingga uang investor, katakanlah Rp 10 miliar, bisa menguap dalam hitungan detik tanpa ada jaminan bisa kembali lagi sepeser pun.

Selain itu, tempat atau pihak yang memfasilitasi transaksi Bitcoin juga bisa kena serangan hacker atau bangkrut tiba-tiba sehingga banyak orang yang selama ini menggunakan jasanya kena kerugian. Kerugian ini tentunya tidak bisa dilaporkan karena tidak ada payung hukumnya.

Sementara itu Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve, Ben Bernanke, menilai Bitcoin bisa jadi alat tukar yang berguna, jika saja bisa diatur dengan baik dan disalahgunakan untuk tindak pencucian uang seperti selama ini.

Yang diuntungkan dari fluktuasi nilai Bitcoin ini adalah investor, sedangkan pemerintahnya was-was. Karena selama ini dedemit dunia maya memakai Bitcoin untuk kegiatan ilegal, seperti cuci uang atau jual beli narkoba dan senjata.

(mkj/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads