Tahun lalu saja, target pesimis pertumbuhan aset perbankan syariah Rp 250 triliun tidak tercapai, hanya bisa menembus angka Rp 244 triliun.
"Skenario 2013 tidak tercapai, target aset sekitar Rp 250 triliun hanya mencapai Rp 244 triliun padahal target pesimis," kata Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edy Setiadi saat acara Dialog Ekonomi Syariah 2014 'Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global', di Hotel Sofyan, Jakarta, Kamis (5/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertumbuhan ekonomi melambat tahun ini sehingga pertumbuhan syariah menurun. Target pesimis tahun ini Rp 257 triliun," ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, selain kondisi perekonomian yang memang belum stabil, tidak tercapainya target pertumbuhan aset tahun lalu disebabkan adanya perlombaan antar bank untuk meningkatkan permodalan melalui kategori BUKU 1 hingga 4.
"Target tahun lalu nggak tercapai karena pertumbuhan ekonomi yang melambat dan perlombaan antar bank termasuk kategorisasi buku 1-4 dan aturan baru yang mempercepat untuk akselerasi bidang permodalan," terang dia.
Ke depan, kata dia, perbankan syariah perlu didorong untuk meningkatkan jumlah jaringan tidak hanya kantor cabang tapi juga melalui jaringan yang ada di induknya.
"Ini ke depan harus berbeda pendekatannya jadi induk harus suntik modal ke anak usahanya atau ke syariah selain itu perlu tambah jaringan," tandasnya.
(drk/dru)











































