BCSA merupakan skema swap mata uang lokal yaitu antara Korea Selatan-Won dengan Indonesia-Rupiah. Artinya ke depan perdagangan antar kedua negara tersebut tidak perlu menggunakan dolar Amerika Serikat.
"Jadi ini adalah cara untuk mempromosikan mata uang rupiah dan Korea selatan won," ungkap Agus usai agenda penandatangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menuturkan selama ini perdagangan Korsel dan Indonesia mayoritas menggunakan dolar AS. Lewat perjanjian ini nantinya akan mengurangi ketergantungan Indonesia dalam menggunakan dolar.
Apalagi menurutnya perdagangan antara kedua negara sangat pesat. Tercatat Korsel merupakan negera tujuan ekspor terbesar kelima dan impor pada posisi keenam. Total perdagangannya adalah US$ 22,8 miliar.
"Perdagangan Korsel dan Indonesia sangat pesat. Jadi kalau gunakan rupiah dan won. Itu mengurangi tekanan hard currency," jelasnya.
Direktur Departemen Internasional BI Aida Budiman menambahkan saat ini penggunaan dolar dalam transaksi perdagangan Korsel dan Indonesia masih menggunakan dolar AS. Seperti impor yang pada tahun 2013 dari total impor sebesar Rp 11,6 miliar, hanya US$ 5,9 juta yang menggunakan rupiah.
"Permasalahan kita sekarang kan masih banyak yang menggunakan hard currency, terutama dolar AS. Jadi seakan ketergantungan. Nah dengan BCSA itu dapat membuat ketergantungan itu hilang. Karena kita bisa gunakan rupiah atau pun won," papar Aida pada kesempatan yang sama.
(mkl/dru)











































