Kondisi Terakhir Ekonomi RI: Kredit Bank Melambat, Pasar Saham Sehat

Kondisi Terakhir Ekonomi RI: Kredit Bank Melambat, Pasar Saham Sehat

- detikFinance
Kamis, 13 Mar 2014 20:09 WIB
Kondisi Terakhir Ekonomi RI: Kredit Bank Melambat, Pasar Saham Sehat
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan pertumbuhan kredit dari 21,4% (yoy) pada Desember 2013, menjadi 20,9% (yoy) pada Januari 2014. Ini karena naiknya bunga kredit bank dalam beberapa bulan terakhir.

"Pertumbuhan kredit yang melambat ini dikarenakan bank-bank yang menaikkan bunga sejak BI Rate naik beberapa bulan lalu," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara membacakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (13/3/2014).

Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan kebijakan BI yang sebelumnya ingin mendorong perlambatan ekonomi. Karena ada beban pada defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang bersumber dari penyaluran kredit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalnya sektor otomotif dan properti. Itu kan menjadi salah penyebab dari CAD juga kan. Makanya kredit itu harus diperlambat. Tapi kenaikan bunga bank juga tidak terlalu tinggi. Karena bank juga berkompetisi satu sama lain," terangnya.

Ia mengatakan stabilitas sistem keuangan terjaga ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan perbaikan kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan ketahanan modal yang masih kuat.

"Ini sejalan dengan arah moderasi permintaan domestik," sebutnya.

BI akan berkoordinasi dengan otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengarahkan pertumbuhan kredit ke depan sejalan dengan moderasi pertumbuhan permintaan domestik. Sementara itu, kinerja pasar modal pada Februari 2014 semakin membaik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat dan imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) menurun, terutama didorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap perekonomian domestik, seiring dengan menurunnya inflasi dan defisit transaksi berjalan.

"Jadi pasar saham yang memang terlihat pada kondisi yang sehat," ujar Tirta.

(mkl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads