Yellen memang berencana menaikkan suku bunga acuan di AS bila kebijakan pengurangan stimulus (tapering off) berakhir.
Menanggapi kondisi ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, rencana The Fed bakal berpengaruh kepada sektor keuangan di Indonesia, khususnya nilai tukar dan indeks harga saham gabungan (IHSG).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini berpengaruh kepada pasar modal dan pasar uang. Karena The Fed tingkat bunga sulit turun," ujar Agus Marto di kantornya, Kamis malam (20/3/2014).
Bila bunga AS naik, maka Indonesia harus bersaing untuk mendapatkan dana asing. Sehingga penurunan suku bunga bisa memicu keluarnya dana dari Indonesia.
Pertemuan dewan gubernur The Fed atau yang biasa disebut Federal Open Market Commitee (FOMC) pada 19 Maret 2014 lalu memberikan sinyal akan adanya kenaikan suku bunga acuan menjadi 1% di 2015, dari 0,25% saat ini. Lalu akan dinaikkan lagi menjadi 2,5% di 2016.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, memang tingkat suku bunga AS yang sebesar 0,25% tidak wajar. Ekonomi Indonesia juga baik-baik saja ketika suku bunga di AS pernah 4% sebelum krisis global 2008 lalu.
(dnl/hen)











































