Rencana redenominasi atau penyederhanaan mata uang rupiah tanpa mengurangi nilai sepertinya tidak akan terealisasi pada 2014. Ini karena kondisi nilai tukar rupiah (NTR) yang masih sangat fluktuasi dan rawan akan gejolak.
Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan (menkeu) Chatib Basri saat ditemui ketika melakukan pencoblosan di TPS 11, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/4/2014).
Chatib menuturkan, Rancangan Undang-Undang (RUU) redenominasi memang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR pun telah melakukan sedikit pembahasan dalam sebuah Pantia Khusus (Pansus).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses redenominasi memang sangat panjang dan tidak mudah. Terutama dari sisi sosialisasi. Ada beberapa dampak negatif bila tahapan redenominasi tidak berjalan sesuai rencana. Salah satunya adalah lonjakan inflasi.
"Ada resiko dari inflasi," sebutnya.
Untuk itu, redenominasi sebaikanya ditahan dalam pelaksanaannya. Menurutnya dari sisi perekonomian, harus ada kestabilan secara menyeluruh. Salah satunya adalah soal nilai tukar rupiah.
Apalagi waktu pembahasan dari pemerintah dan DPR tidak banyak. Meningat sudah berlangsungnya pemilihan umum legislatif (pileg) dan berlanjut ke Pilpres (Pemilihan Presiden) pada bulan Juni mendatang.
"Kalau situasi sudah lebih baik mungkin akan dilakukan," imbuhnya.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai hal yang senada. Menurutnya, proses yang diperlukan cukuplah panjang, dan memang tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat karena masih menunggu kondisi ekonomi yang stabil dan terkendali.
"Redenominasi ini beda dengan sanering. Harus hati-hati karena redenominasi bisa di baca salah, kita harus masuk dulu ke lingkuang dengan kondisi ekonomi stabil," imbuh mantan menkeu dan Dirut Bank Mandiri ini.
(mkl/rrd)











































