Ini 'Jurus' OJK Supaya Industri Keuangan Stabil dan Terhindar Risiko

Ini 'Jurus' OJK Supaya Industri Keuangan Stabil dan Terhindar Risiko

- detikFinance
Selasa, 15 Apr 2014 11:35 WIB
Ini Jurus OJK Supaya Industri Keuangan Stabil dan Terhindar Risiko
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ingatkan industri keuangan agar menerapkan combined assurance (CA) model untuk menjaga kestabilan perusahaan. Ini merupakan sinergi antara fungsi manajemen risiko, audit internal, kepatuhan, pengendalian kualitas dan komite audit pada sebuah perusahaan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Ilya Avianti mengatakan CA model ini bertujuan untuk mencegah atau mendeteksi secara dini atas berbagai risiko eksternal ataupun internal. Terutama bila ada ancaman krisis yang menyerang perusahaan.

"Adanya fungsi assurance, diharapkan mampu memitigasi risiko baik internal maupun eksternal," ujarnya dalam Seminar implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) di Era Industri Keuangan Terintegrasi di Hotel Grand Hyat, Jakarta, Selasa (15/4/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Model ini mampu menghindari adanya loopholes/uncontrolled activities yang selama ini sulit dijangkau oleh fungsi assurance perusahaan. Kemudian juga memungkinkan efisiensi pekerjaan dan biaya karena dapat menghindari adanya duplikasi proses assurance.

"Implementasi model ini secara efektif juga akan mengefesiensikan proses database, data warehouse dan sistem IT karena kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan satu sistem terintegrasi," jelasnya.

Ilya mengatakan, OJK sudah memulai penerapan model ini dengan pendekatan 1 atap dalam fungsi audit internal, manajemen risiko dan pengendalian kualitas. Ini pun akan di dorong untuk diterapkan pada industri keuangan.

"OJK mendorong agar industri jasa keuangan menerapkan CA model yang pada akhirnya mendorong terciptanya industri jasa keuangan yang sehat dan stabil sehingga dapat memberikan rasa kepercayaan kepada konsumen dan stakeholders," terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja menuturkan, pada realitanya, model ini akan terlihat salah satunya dalam pemberian laporan keuangan.

Misalnya dalam satu perusahaan, masing-masing unit setiap waktunya menyetorkan laporan. Padahal sebenarnya, unit itu terintegrasi dengan yang lain. Akibatnya, laporan tersebut tidak tersambung dengan tepat.

"Banyak yang berfikir kalau makin banyak report itu sudah aman. Setiap unit bikin report. Padahal sebenarnya masih banyak yang ketinggalan yang akhirnya menjadi repot," ujar Jahja.

Setiap aktivitas perusahaan tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Karena perusahaan itu akan selalu berkembang. Apalagi bila sudah menambah anak usaha atau bergabung dengan perusahaan lainnya. Sehingga integrasi harus menjadi fokus.

"Setiap perusahaan yang berkembang itu ada perubahan. Artinya di sana perlu ada integrasi," sebutnya.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads