Direktur Keuangan Danamon Vera Eve Lim mengatakan, penurunan laba bersih ini dikarenakan tingginya beban bunga yang mencapai 51%. Tingginya beban bunga ini seiring dengan peningkatan suku bunga Bank Indonesia (BI).
"Kinerja kuartal pertama secara keseluruhan terkena beban bunga seiring peningkatan bunga BI tahun lalu. Tahun lalu cost of fund giro, tabungan, deposito 4%, tahun ini 6%, ini sangat drastis. Biaya di Adira naik dari 8 ke 9%. Secara keseluruhan beban bunga meningkat 51%," kata Vera saat konferensi pers Paparan Kinerja Kuartal I 2014 Danamon, di Gedung Danamon, Jakarta, Rabu (16/4/2014).
Namun, pendapatan bunga bersih bank berkode BDMN itu masih tercatat naik di kuartal pertama tahun 2014 sebesar Rp 3,425 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 3,334 triliun.
"Akibat beban bunga yang tinggi, NIM turun dari 10,1% di kuartal pertama tahun lalu menjadi 8,6% di kuartal pertama tahun ini," kata dia.
Namun, di periode yang sama, perseroan membukukan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau regulatory loan to deposit ratio (LDR) membaik menjadi 94,1%, pertumbuhan kredit sebesar 16% menjadi Rp 136 triliun dan total pendanaan yang naik sebesar 22% menjadi Rp 139 triliun dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.
"Pertumbuhan kredit Danamon mencerminkan perekonomian yang stabil. Tekanan inflasi sudah mereda," ujarnya.
Pertumbuhan kredit perseroan didukung oleh pertumbuhan kredit segmen mass market yang berkontribusi sebesar 52% dari total kredit Danamon.
Sampai akhir Maret 2014, kredit mass market tumbuh 6% secara yoy menjadi Rp 70,4 triliun. Sementara itu, kredit non mass market membukukan pertumbuhan sebesar 27% menjadi Rp 65,5 triliun.
Kredit terhadap segmen UKM tumbuh 15% menjadi Rp 21,3 triliun, sedangkan kredit untuk segmen usaha mikro mellaui DSP tumbuh 4% menjadi Rp 20 triliun.
Secara keseluruhan kredit perseroan kepada segmen UMKM tumbuh sebesar 9% menjadi Rp 41,4 triliun atau 30% dari total kredit perseroan.
(drk/ang)











































