Genjot Penyaluran KPR, BTN Bakal Dapat Suntikan Modal dari Mandiri

Genjot Penyaluran KPR, BTN Bakal Dapat Suntikan Modal dari Mandiri

- detikFinance
Selasa, 22 Apr 2014 15:18 WIB
Genjot Penyaluran KPR, BTN Bakal Dapat Suntikan Modal dari Mandiri
Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) akan menjadi anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pasca diakuisisi. Akuisisi ini dilakukan agar kemampuan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di BTN semakin kuat.

Meski kekuatan modal BTN akan semakin kuat setelah berubah menjadi anak usaha namun Bank Mandiri, namun tetap tak sanggup membiayai kekurangan ketersediaan perumahan di Indonesia.

Direktur Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin menjelaskan setiap tahunnya ada 800.000 kebutuhan rumah yang tidak bisa dipenuhi atau backlog. Untuk membiayai 800.000 backlog rumah, setidaknya dibutuhkan pembiayaan hingga Rp 120 triliun.

"Mandiri nggak mampu. Harus semua perbankan yang beri. Ini mainan seluruh perbankan. Backlog setiap tahun butuh pembiayaan Rp 120 triliun," kata Budi di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (22/4/2014).

Budi menjelaskan belajar dari perbankan di seluruh dunia, penyediaan KPR dilakukan oleh seluruh perbankan bukan dimonopoli atau dilakukan oleh satu perbankan.

"Di luar negeri. Dilakukan semua bank. Dengan mekanisme dapat insentif seperti Turki," terangnya.

Kekurangan rumah atau backlog perumahan di Indonesia hingga akhir 2013 mencapai angka 15 juta unit.

Meski tak mampu membiayai semua kebutuhan perumahan, BTN pasca menjadi anak usaha Bank Mandiri bakal memiliki kemampuan permodalan yang lebih kuat. BTN akan memperoleh suntikan dari induk.

Selain itu, BTN tetap memiliki tugas menyalurkan KPR bersubsidi pasca akuisisi. Diakui Budi, masuknya Bank Mandiri ke bisnis kredit retail seperti KPR justru akan memperkuat portofolio bisnis perseroan.

"Belajar dari krisis 1998, 2003, 2005, 2008. Jangan punya portofolio hanya satu. Dulu bank pemerintah yang fokus korporasi jatuh. Jangan jatuh di satu portofolio. Nanti dia bahaya. Dia harus diversifikasi. Bukan untuk ambisisi. Ini masalah diversifikasi," terangnya.
(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads