Akusisi BTN Berujung Holding BUMN, Wacana atau Nyata?

Akuisisi BTN Oleh Bank Mandiri (2)

Akusisi BTN Berujung Holding BUMN, Wacana atau Nyata?

- detikFinance
Rabu, 23 Apr 2014 10:57 WIB
Akusisi BTN Berujung Holding BUMN, Wacana atau Nyata?
Karyawan BTN berunjuk rasa menolak akusisi oleh Bank Mandiri. (Foto: Grandyos Zafna/Detikcom)
Jakarta - Indonesia sudah lama mendambakan sebuah perusahaan milik negara yang membawahi sektor tertentu, yang biasa disebut holding. Holding BUMN farmasi, kehutanan, semen, perbankan, dan lain-lain pernah diwacanakan dalam beberapa tahun terakhir. Namun realisasinya minim, hanya holding semen yang terwujud.

Akhir pekan lalu, muncul kabar dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN, bahwa Bank Tabungan Negara (BTN) akan diakuisisi oleh Bank Mandiri. Latar belakangnya adalah BTN yang selama ini banyak memfasilitasi pembiayaan perumahan perlu penguatan. Dengan kondisi yang sekarang, sangat sulit bagi BTN untuk memenuhi kekurangan kebutuhan perumahan (backlog).

Kedua, untuk membentuk bank nasional yang kuat. Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri diharapkan mampu melahirkan bank yang bisa bersaing, setidaknya di tingkat regional.

Ketiga, dibutuhkan bank dengan modal yang kuat untuk melayani perusahaan-perusahaan Indonesia yang terus berekspansi seiring pertumbuhan ekonomi. Peluang pembiayaan yang besar ini bisa dimanfaatkan bank asing jika bank nasional tidak mampu memberikannya.

Rencana ini mengungkit kembali wacana yang sudah lama tenggelam, yaitu pembentukan holding bank BUMN. Naldy Nazar Haroen, Ketua BUMN Watch, menyambut positif rencana ini.

Menurut Naldy, pembentukan holding perusahaan BUMN memang penting. BUMN di Indonesia seringkali tidak efisien karena beberapa perusahaan bergerak di bidang yang sama. Itu terjadi di BUMN karya, farmasi, dan juga perbankan. "Mereka akhirnya malah saling bersaing sendiri, padahal sama-sama BUMN,” kata Naldy, di Jakarta kemarin.

BUMN di Indonesia, tambah Naldy, seharusnya mencontoh pengelolaan di negara lain yang lebih efisien. "Tidak perlu jauh-jauh, di Malaysia saja. Mereka punya satu holding seperti Temasek yang di bawahnya mengelola beberapa unit usaha," ucapnya.

Namun, menurut Naldy, sulitnya membentuk holding perusahaan negara mungkin karena banyak kepentingan terselubung. "Sepertinya sudah rahasia umum bahwa BUMN itu menjadi sapi perahan. Kalau sapinya banyak, maka yang diperah juga semakin banyak kan? Kalau sapinya sedikit rugi dong," tegasnya.

Saat ini, holding BUMN yang terbentuk baru di bidang semen. Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, dan Thang Long Cement Company membentuk Semen Indonesia pada 2012.

Sejumlah keuntungan didapat ketika Semen Indonesia terbentuk. Sepeti dikutip dari situs perseroan, kini Semen Indonesia memiliki keunggulan jaringan distribusi karena didukung oleh 30 unit gudang penyangga, pengoperasian 22 packing plant di lokasi yang strategis dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, serta didukung oleh 361 distributor nasional untuk menjamin kelancaran pasokan semen ke seluruh Indonesia.

Semen Indonesia saat ini sedang membangun 3 packing plant tambahan di beberapa lokasi. Hingga 2016, Semen Indonesia merencanakan tambahan 12 unit packing plant. Tujuan pembangunan packing plant tersebut adalah efisiensi biaya menjamin kontinuitas pasokan, dan perluasan pasar.

Ada pelajaran yang bisa diambil dari Semen Indonesia, yaitu pembentukan holding mampu menghasilkan sebuah perusahaan yang kuat dan efisien. Penyatuan tiga perusahaan semen yang berbeda ini juga memberi contoh bagaimana demi kepentingan yang lebih besar ego perlu dikesampingkan.

“Kebetulan kami juga ikut mengawal pembentukan dari awal, proses pembuatan holding strategis dari Semen Indonesia. Memang tidak mudah menyatukan budaya perusahaan BUMN yang berbeda. Namun dengan niat yang baik, apapun perbedaan itu bisa dijembatani. Justru sinergi strategisnya berlipat ganda daripada kekuatan masing-masing,” papar Mahendra Siregar, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.



(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads