Pengembang Properti Ikut Khawatir Soal Akuisisi BTN

Pengembang Properti Ikut Khawatir Soal Akuisisi BTN

- detikFinance
Rabu, 23 Apr 2014 13:49 WIB
Pengembang Properti Ikut Khawatir Soal Akuisisi BTN
Jakarta - Kalangan pengembang properti menanggapi rencana akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. Selain pegawai BTN, mereka juga salah satu pihak yang khawatir dengan rencana akuisisi itu.

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Eddy Hussy menjelaskan pihaknya menilai BTN selama ini sangat mendukung pembiayaan sektor perumahan khususnya pembiayaan rumah bagi Masyarakat Perpenghasilan Rendah (MBR). Sehingga rencana akuisisi telah memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bersubsidi.

"Itu menimbulkan rasa khawatir. Dengan demikian apakah BTN bisa eksis beri kredit untuk MBR. Kita perlu komitmen yang jelas. Besarkan BTN bagus. Tapi apakah ada cara lain besarkan BTN. Pak Dahlan jauh lebih jago untuk besarkan caranya bagaimana?" tanya Eddy pada acara diskusi akuisisi BTN di menara Kadin, Jakata, Rbu (23/4/2014).

Eddy mengakui pihaknya sepakat mendorong BTN menjadi perbankan yang kuat dan besar. Rencana ini sejalan dengan Kementerian BUMN yang ingin membuat BTN menjadi bank kuat pada sektor pembiayaan perumahan.

Secara prinsip REI bisa menyetujui rencana akuisisi jika telah mendengarkan penjelasan terkait skema dan manfaat akuisisi dari Menteri BUMN Dahlan Iskan.

"Kita sudah minta waktu. Kita ingin ngobrol lebih dalam dengan Menteri BUMN. Kita ingin sebagai partner pemerintah mendukung kalau bagus.
Kalau penjelasan jelas. Komitmen jelas dari Mandiri dan pemerintah. Aturan mendukung maka kita mendukung," jelasnya.

Di tempat yang sama, Sekjen Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Endang Kawidjaja menjelaskan selama ini BTN sangat mendukung pembiayaan sektor perumahan. Mayoritas anggota Apersi adalah pengusaha pengembang perumahan untuk kalangan MBR sehingga sangat bergantung pembiayaan KPR subsidi dari BTN.

Saat ini sebanyak 90% lebih, penyaluran KPR subsidi dijalankan oleh BTN. Endang juga menilai selama pengembangan perumahan, pihak pengembang tidak mengalami kesulitan dukungan pembiayaan dari BTN.

"Selama ini BTN fokus ke pembiayaan MBR ke FLPP (KPR subsidi). Faktanya 2013, BTN mampu sediakan 96.000 KPR atau 95% KPR dalam bentuk FLPP. Anggota kami banyak jadi nasabah BTN. Selama ini nggak pernah alami masalah kredit konsumsi KPR. Sebenarnya kemampuan BTN di 2013 belum menjadi kendala," jelasnya.

Jika akuisisi terjadi, Endang memaklumi timbulnya kekhawatiran pengusaha terkait keberlangsungan penyaluran KPR subsidi dan bisnis properti di Indonesia.

"Kita istilahnya anggota 80% banyak pemain di rumah untuk MBR. Kalau BTN terganggu kinerjanya maka pengembangan perumahan menjadi buruk. BTN sangat khusus. Kita khawatir. Sekarang mencari uang muka dan KPR sulit. Siapa yang bisa menjamin bisa ke arah sebelumnya yakni penyaluran KPR subsidi tetap," jelasnya.

Sementara itu, Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Imron Rosyidhi memiliki pandangan tersendiri. Ia menjelaskan pasca akuisisi BTN, Indonesia bisa memiliki perbankan raksasa bahkan bisa bersaing di kancah Asia Tenggara. Selain itu, pengelolaan BTN di dalam penyaluran KPR bisa jauh lebih baik.

"Ini untuk efisiensi dan bangkitkan negara. Harus setuju. Masa kalah sama Malaysia. BTN akan jadi anak usaha Mandiri. Berarti aset Mandiri besar. Kita akan bangga punya bank besar di Asia Tenggara. Sisi ekonomi jika ditangani Mandiri, BTN belum tentu lebih jelek," sebutnya.

Imron menilai konsep akuisisi BTN oleh Bank Mandiri merupakan wacana lama. Rancangan ini menurutnya telah disusun sejak Menteri BUMN yang pertama yakni Tanri Abeng.

"Dari Tanri Abeng. Dia ahli ekonomi dan bisnis. Dia memiliki penglihatan maju," sebutnya.

Seperti diketahui, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang menjalankan dan menyusun proses akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

BTN akan menjadi usaha Bank Mandiri pasca akuisisi. Menurut Menteri BUMN Dahlan Iskan, akuisisi dilakukan untuk memperkuat sektor pembiayaan perumahan di Indonesia.

(feb/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads