Bagi kebanyakan orang, membeli rumah secara tunai bukanlah pilihan karena keterbatasan kemampuan finansial. Oleh karena itu, kredit menjadi hal yang lumrah dalam pembelian rumah. Inilah yang akrab dikenal sebagai Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Bank Tabungan Negara (BTN) merupakan bank yang identik dengan KPR. Tahun lalu penyaluran KPR BTN mencapai Rp 100,46 triliun, tumbuh 23,41 persen dibandingkan 2012. Untuk tahun ini, BTN menargetkan penyaluran KPR sebesar Rp 109,4 triliun.
Meski sudah berjuang sekuat tenaga, ternyata KPR BTN tidak mampu mengatasi kekurangan pasokan perumahan (backlog). Berdasarkan catatan Kementerian Perumahan Rakyat, saat ini backlog mencapai 15 juta.
Oleh karena itu, pemerintah kini tengah mengupayakan akusisi BTN oleh Bank Mandiri, bank dengan aset terbesar di Indonesia. Diharapkan langkah ini mampu memberikan tambahan modal bagi BTN untuk lebih banyak lagi menyalurkan KPR.
Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, menyatakan BTN akan memiliki kemampuan permodalan yang lebih kuat setelah menjadi anak usaha Bank Mandiri. BTN pun dijanjikan tetap menjalankan fokus bisnisnya, yaitu penyaluran KPR.
Namun setelah BTN diakuisisi oleh Bank Mandiri, apakah masalah backlog bisa teratasi? Budi mengatakan tidak mungkin. Bank Mandiri atau BTN saja tidak cukup besar untuk mengatasi backlog.
Setiap tahunnya, menurut Budi, ada sekitar 800 ribu kebutuhan rumah yang tidak dapat terpenuhi. Untuk membiayai kebutuhan tersebut, setidaknya dibutuhkan dana yang sangat besar yaitu mencapai Rp 120 triliun.
“Mandiri tidak mampu, harus semua bank yang memberikan. Backlog setiap tahun butuh pembiayaan Rp 120 triliun," kata Budi.
Di negara-negara lain, tambah Budi, pembiayaan perumahan juga tidak ditangani oleh beberapa bank saja. “Dilakukan semua bank dengan mekanisme insentif. Contohnya di Turki,” tuturnya.
(hds/DES)











































