Soal Akuisisi BTN, Dahlan: Seolah-olah Saya Ini Menteri Ngawur

Soal Akuisisi BTN, Dahlan: Seolah-olah Saya Ini Menteri Ngawur

- detikFinance
Kamis, 24 Apr 2014 09:38 WIB
Soal Akuisisi BTN, Dahlan: Seolah-olah Saya Ini Menteri Ngawur
Tangerang - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan masih tidak terima dengan keputusan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Dipo meminta kajian akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) harus dengan kajian dan persiapan yang matang.

Menanggapi ini, Dahlan mengaku dirinya seperti pejabat negara yang seolah-olah tidak melakukan persiapan yang matang di dalam mengambil keputusan termasuk soal rencana akuisisi BTN.

"Seolah-olah saya ini menteri yang ngawur. Ini sudah dikaji sangat mendalam. Melibatkan juga konsultan-konsultan terbaik di bidang keuangan. Ini juga sudah dikaji, dirapatkan, dikaji lagi," kata Dahlan usai rapat pimpinan di kantor pusat GMF AeroAsia, Tangerang, Kamis (24/4/2014).

Dipo sebelumnya juga memerintahkan agar para menteri tidak mengambil kebijakan strategis selama masa Pemilu yang memiliki dampak terhadap stabilitas ekonomi, sosial, politik dan keamanan. Seperti kebijakan rencana akuisisi 60,14% saham pemerintah di BTN. Dahlan menyebut, kebijakan seharusnya tetap harus diambil meskipun saat ini sedang memasuki masa Pemilu Presiden.

"Kedua, pemerintah harus efektif sampai akhir masa pemerintah. Pemerintah seolah-olah demosioner setelah Pileg. Saya berpendapat harus efektif. Program-program harus jalan termasuk program masyarakat dan naikkan daya saing," jelasnya.

Mantan bos PLN ini menyebut keresahan terkait rencana akuisisi hanya muncul di kalangan terbatas yakni hanya pegawai BTN. Menurut Dahlan karena informasi yang diperoleh belum lengkap oleh pegawai BTN. Ia siap menjelaskan hal ini kepada karyawan BTN jika para pimpinan di bank BUMN tersebut tidak sanggup memberikan informasi.

"Kalau ini disebut resahkan masyarakat. Itu hanya karyawan BTN. Kalau nggak direksi nggak sanggup, saya yang hadapi. Demo ke saya. Ada yang resah, satu dua karena kurang penjelasan. Disebut BTN akan hilang. Dia belum baca penjelasan, bahwa BTN tetap eksis, dan bahwa pembiayaan perumahan tetap besar," jelasnya.

Dahlan juga mengaku sangat sedih terkait rencana kementeriannya untuk memiliki bank besar skala internasional dan bank yang memiliki kekuatan permodalan kuat di sektor pembiayaan perumahan, harus tertunda karena instruksi Sekretaris Kabinet. Padahal banyak pihak menyuarakan Indonesia harus memiliki daya saing lokal dan global.

"Sangat sedih karena ini untuk tingkatkan daya saing. Ayo Indonesia punya daya saing hebat. Begitu melangkah, daya saing kita nggak bisa," katanya.

Sebelumnya Rabu kemarin, Dipo Alam melakukan jumpa pers di Kantor Sekretariat Kabinet. Ia meminta semua menteri dan pejabat tinggi negara untuk tidak mengambil kebijakan strategis selama masa pemilu presiden.

Dipo juga meminta Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Chatib Basri, Menteri BUMN Dahlan Iskan serta direksi BTN dan Mandiri menunda rencana akuisisi. Dipo meminta mematangkan terlebih dahulu rencana akuisisi. Selain itu, program akuisisi berpotensi mengganggu stabilitas selama masa pemilu.

"Bahwa menteri, pimpinan non kementerian. Dalam masa pileg dan pilpres 2014 tidak mengambil kebijakan strategis dan berdampak luas bagi masyarakat dan dapat membebani pemerintah yang akan datang. Maka kiranya pengalihan kepemilikan saham negara dari BTN ke Mandiri yang berkembang dan berpotensi meresahkan masyarakat umum serta karyawan BTN. Untuk ditunda sampai ada kejelasan yang komprehensif mengenai rencana pengalihan saham," kata Dipo.

(feb/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads