Induk usaha Grup Bakrie, yaitu PT Bakrie dan Brothers Tbk (BNBR) yang melaporkan laba Rp 665 milar di tiga bulan pertama 2014, melonjak 15.267%. Laba ini didorong oleh bergesernya fokus perusahaan ke sektor usaha berbasis manufaktur dan pengembangan infrastruktur setelah sebelumnya mengandalkan sektor lain seperti pertambangan, sawit, properti, dan lain-lain.
Anak-anak usahanya yang lain juga mengalami kinerja yang positif, seperti PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), dan lainnya. Sedangkan kinerja anak usahanya di sektor tambang masing lesu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laba perusahaan secara grup naik, tapi tetap ya nggak bisa dipakai, kalau bayar pakai uang perusahaan itu, ya melanggar namanya," ujar Timoer saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Selasa (6/5/2014).
Menurut dia, setiap perusahaan meskipun dalam satu grup punya hak dan kewajiban masing-masing termasuk dalam pembayaran utang. Terlebih, jika perusahaan tersebut sudah tercatat di bursa efek, ada pemegang saham publik yang harus dimintai persetujuannya dalam melakukan keputusan perusahaan.
"Karena kalau kita memakai uang grup yang sudah listed company untuk membayar utang kita, itu melanggar. Kayak BTEL, agak susah ya kalau untuk listed company, kita terikat dengan aturan juga, karena masing-masing perusahaan punya dapur sendiri-sendiri," katanya.
Timoer menyebutkan, salah satu opsi untuk bisa melunasi utang-utang perseroan yang saat ini mencapai Rp 260 miliar perlu dilakukan penjualan aset bebas.
"Mungkin dengan cara jual aset, tentunya aset yang belum terikat. Ada beberapa aset yang bisa dilepas untuk bayar utang, ini aset yang masih bebas belum terikat perusahaan publik," kata Timoer.
Saat ini, sisa utang Bakrie Life tinggal Rp 260 miliar dari total utang senilai Rp 420 miliar. Timoer berjanji akan melunasi semua utangnya ini Juni 2014 mendatang.
(drk/ang)











































