Laporan dari Mandiri Institute menyebutkan, hanya 36,2% masyarakat Indonesia yang memiliki penetrasi ke pasar keuangan, sama dengan Filipina. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia (122,2%) dan Thailand (103,4%) serta Singapura (157,94%), aksesibilitas ini masih kalah jauh.
"Kalau Malaysia Thailand itu sudah di atas 100%. Masih jauh tertingggalnya untuk akses keuangan," ungkap Dewan Penasihat Mandiri Institute Darmin Nasution di Hotel Four Seasons, Jakarta, Senin (12/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Financial Inclusion (FI) harus tetap terealisasi. Menurutnya sektor perbankan harus didorong untuk dapat langsung menyentuh masyarakat. Terutama berada di pedesaaan yang selama ini sulit dijangkau.
"Makanya menjadi penting untuk dilakukan financial inclusion," tegasnya
Cara yang paling terlihat jelas adalah dengan pemanfaatan alat telekomunikasi seperti ponsel. Darmin menyebutkan jumlah ponsel yang beredar sudah melebih jumlah penduduk Indonesia.
"Jumlah handphone dan akunnya itu sudah melebihi dari jumlah masyarakat yang 240 juta orang. Karena ada yang satu orang itu punya dua bahkan tiga ponsel," ungkap Darmin.
Tahun 2010, pemilik akun ponsel sudah mencapai 26% dari populasi. Kemudian tahun 2011 naik menjadi 47%, tahun 2012 sebesar 69%, dan tahun 2013 sudah mencapai 92%.
Harusnya akses keuangan bisa memanfaatkan sistem informasi yang dimiliki oleh ponsel. Sehingga tidak perlu lagi untuk membangun kantor cabang pada setiap daerah.
"BI sudah membuat pilot project-nya sehingga sistem informasi bisa terintegrasi dan dimanfaatkan," paparnya.
(mkl/dnl)











































