"Yang harus tahu ciri-ciri keaslian uang tidak hanya orang normal. Orang-orang yang memiliki kekurangan juga berhak memperoleh pengetahuan ciri-ciri keaslian uang supaya mereka tidak tertipu," kata Deputi Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Fadhil Nugroho, Kamis (22/5/2014).
BI memilih Pertuni untuk sosialiasi ini karena organisasi tersebut dinilai mapan dan anggotanya cukup banyak. Selain itu, kegiatan tersebut dianggap cukup bermanfaat bagi para tunanetra agar dapat membedakan mana uang asli dan mana uang palsu serta mengetahui berapa nominal uang yang mereka terima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, BI telah menyediakan fitur khusus atau 'blind code' yang bisa dikenali oleh para penyandang tunanetra, yakni gambar timbul berupa segitiga, lingkaran, dan segiempat sehingga dapat dirasakan saat diraba.
Pada fitur khusus tersebut terdapat pada pecahan Rp 10 ribu ke atas, yakni lingkaran satu untuk pecahan Rp 10 ribu, segiempat satu untuk Rp 20 ribu, segitiga dua untuk Rp 50 ribu, dan lingkaran dua untuk Rp 100 ribu.
"Sebenarnya nilai nominal uang juga bisa diraba karena agak timbul, sehingga bisa dirasakan," jelasnya.
Sementara menurut Pendamping Pertuni Kabupaten Banyumas, Saefudin menjelaskan jika pihaknya menyambut baik atas terselenggaranya sosialisasi ciri-ciri keaslian uang tersebut karena sangat penting bagi para penyandang tunanetra karema selama ini para penyandang tunanetra hanya bisa mengenali uang berdasarkan jenis kertasnya.
"Kami selaku pendamping memang belum pernah menerima laporan terkait kemungkinan adanya anggota Pertuni khususnya yang menjadi juru pijat yang dibayar pelanggan dengan uang palsu," ungkapnya.
Dari pantauan detikFinance, masih banyak para tunanetra yang belum mengetahui jumlah nominal uang yang diterima. Saat diminta menyebtukan berapa nominal uang yang sedang dipegang, hampir rata-rata para tunanetra tersebut salah menyebutkan nominal uangnya.
Petugas BI yang memberikan uang Rp 100 ribu dijawab oleh para tunanetra yang sudah meraba uang tersebut menyebut Rp 50 ribu, bahkan ada yang menyebut Rp 20 ribu.
"Susah mengenali nominal uangnya, apalagi jika uangnya sudah lecek," jelas Lia, salah satu penyandang tunanetra.
(arb/ang)











































