Dolar Dekati Rp 12.000, Ini Diperkirakan Hanya Sementara

Dolar Dekati Rp 12.000, Ini Diperkirakan Hanya Sementara

- detikFinance
Selasa, 03 Jun 2014 11:45 WIB
Dolar Dekati Rp 12.000, Ini Diperkirakan Hanya Sementara
Jakarta - Dalam 3 hari perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cenderung melemah. Bahkan pada Selasa (3/6/2014), dolar mendekati Rp 12.000.

Dikutip dari Reuters, hari ini rupiah sempat diperdagangkan di Rp 11.825 per dolar AS. Sementara titik terendah perdagangan hari ini adalah Rp 11.780 per dolar AS.

Menurut Juniman, Kepala Ekonom BII, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini hanyalah fenomena temporer. Dia melihat ada peluang bagi rupiah untuk kembali menguat selepas Juli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pelemahan rupiah saat ini salah satunya disebabkan reaksi investor atas defisit neraca perdagangan yang cukup besar. Ini karena impornya memang cukup tinggi," kata Juniman kepada detikFinance, Selasa (3/6/2014).

Pada April, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor mencapai US$ 16,26 miliar. Menurut Juniman, penyebabnya adalah persiapan dunia usaha untuk menghadapi Ramadhan-Idul Fitri.

Sampai Juli, Juniman memperkirakan impor masih akan tetap di kisaran US$ 16 miliar. Namun selepas itu, impor akan turun seiring ekonomi Indonesia yang sebenarnya tengah melambat.

Kemudian, tambah Juniman, ekspor juga bisa membaik ketika Indonesia kembali masuk ke negara-negara maju seperti AS atau kawasan Eropa. Saat ini, negara-negara tersebut sedang menuju pemulihan ekonomi.

"Ekonomi China dan India sedang melambat, pemerintah perlu antisipasi dengan kembali masuk ke negara-negara maju yang sedang dalam masa recovery. Mereka adalah pasar yang potensial," tutur Juniman.

Dengan penurunan impor dan perbaikan ekspor, Juniman optimistis, neraca perdagangan akan pulih. "Selepas Juli sepertinya bisa kembali surplus bahkan sampai akhir tahun, dan ini mendukung penguatan rupiah. Jadi, pelemahan rupiah kali ini sepertinya hanya temporer," tegasnya.

Selain itu, Juniman memperkirakan rupiah bisa kembali menguat karena terbantu euforia politik pasca pemilihan presiden (pilpres). "Setelah 9 Juli, kita bisa mengetahui siapa pemenang Pilpres. Kita bisa berharap ada euforia politik, yang mendatangkan capital inflow. Ini tentu membantu menyokong penguatan rupiah," jelasnya.

Β 
(hds/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads