Ada ketentuan tidak resmi yang menyatakan uang dolar AS tidak boleh dicoret, terlipat, lusuh, dan sebagainya. Dolar AS diperlakukan layaknya barang antik.
Berbeda dengan rupiah yang diacuhkan. Sehari-hari kita sering menemukan rupiah yang terlipat, lusuh, dicoret-coret, bahkan robek dan disambung kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kepri H Samsul Bahrum mengatakan kualitas rupiah memang tertinggal dibandingkan negara lain. Dia membandingkan dengan mata uang dolar Australia.
Untuk pecahan Rp 100.000 dibandingkan dengan 100 dolar Australia terlihat kualitasnya yang tidak jauh berbeda. Mulai dari jenis kertas, desain, keamanan, dan lainnya.
Namun untuk pecahan yang lebih kecil seperti Rp 20.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000 terlihat ada penurunan kualitas. "Mohon maaf, seolah ada penurunan uang secara kualitas. Padahal yang kecil-kecil itu kan banyak dipegang oleh masyarakat," kata Samsul.
Untuk meningkatkan kebanggaan terhadap rupiah, lanjut Samsul, kualitas fisiknya juga harus mumpuni. "Itu menjadi tantangan untuk BI (Bank Indonesia). Kualitas rupiah harus terus ditingkatkan untuk menjadikan kita bangga," tegasnya.
Tidak hanya tampilan fisik, nilai tukar rupiah pun dinilai tidak stabil sehingga bukan menjadi mata uang utama pilihan investor. Pengamat pasar keuangan Farial Anwar mengatakan, ini membuat rupiah menjadi seperti diacuhkan.
"Gejolaknya luar biasa, naik-turun seperti roller coaster. Makanya tidak salah dolar AS masih dianggap sebagai safe haven currency," kata Farial.
Tutum pun sependapat dengan Farial. Nilai tukar rupiah yang fluktuatif menyebabkan dunia usaha sulit membuat rencana bisnis.
"Kalau kita bayar pakai rupiah, rate-nya pasti tinggi. Kemudian juga pengeluaran kita untuk sewa saja tak jelas, karena rupiahnya berubah-ubah. Makanya mau tak mau kita simpan dolar dan pembayarannya juga pakai dolar," paparnya.
(mkl/hds)











































