Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan kondisi ekonomi saat ini ini tak hanya dipengaruhi kurs rupiah yang melemah, namun dibarengi kinerja ekspor Indonesia yang juga melemah.
"Tentu mengkhawatirkan, ekspor melemah dan daya beli masyarakat yang lemah. Lalu kita juga dihadapi masalah pengelolaan pemerintahan dalam negeri," katanya kepada detikFinance, Kamis (26/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Public Relations and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) Santo Kadarusman menyampaikan hal sama, menurutnya saat ini dunia usaha bingung dengan kondisi nilai tukar yang berfluktuatif.
Santo mengatakan selama ini berdasarkan pengalaman, setiap rupiah melemah drastis maka pihaknya cenderung wait & see selama 1-3 bulan ke depan. Namun jika tetap dolar tetap diangka Rp 12.000 seperti itu atau bahkan lebih menguat lagi, maka pilihannya adalah mau tidak mau harga jual produk elektronika akan dinaikkan karena beberapa komponen harus impor. Menurutnya setiap pembelian bahan baku elektronika dibeli dengan mata uang dolar AS.
"Itu yang membuat pengusaha bingung, kalau harga nggak dinaikkan, maka nggak dapat untung, sebaliknya kalau naik, khawatir konsumen pindah beli produk pesaing," katanya.
(hen/hds)











































