Prospek Cerah, Pangsa Pasar Perbankan Syariah Capai 1 %
Selasa, 28 Des 2004 15:00 WIB
Jakarta - Perkembangan perbankan syariah yang baru dirintis tahun 1990-an sangat pesat dan memiliki prospek yang cerah pada tahun 2005. Saat ini pangsa pasar perbankan syariah telah menembus batas psikologis sebesar 1 persen dari perbankan nasional. Deputi Gubernur BI Maulana Ibrahim dalam jumpa pers di Gedung BI usai seminar tahunan tentang perbankan syariah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (28/12/2004).Ia menjelaskan, dari sisi rasio kesehatan, CAR perbankan syariah mencapai 12,12 persen, dengan NPS (NPLnya Syariah) 2,43 persen. Dari volume usaha rata-rata pertumbuhannya 64,98 persen antara tahun 2001-2003. Pada tahun 2004 pertumbuhannya mencapai 80,56 persen.Dari sisi pembiayaan mencapai 101,08 persen dengan pertumbuhan dana yang dihimpun sebesar 85,33 persen dan LDR mencapai 104,81 persen. Angka ini melebihi LDR bank konvensional yang berkisar 48 persen pada akhir September 2004.Dengan pertumbuhan yang mengesankan itu, maka pada tahun 2004 ini pangsa industri perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional teleh menembus batas psikoligis 1 persen. Diharapkan, pangsa industri ini pada tahun 2011 bisa mencapai 9,1 persen. Menurut Maulana salah satu kendala perbankan syariah adalah tentang perpajakan. "UU Perpajakan belum menampung produk-produk perbankan syariah. Tidak seperti di Malaysia, waktu ada bank tanpa faedah (tanpa bunga) hal yang pertama dilakukan adalah dikeluarkannya UU Islamic Bank, kemudian dilakukan review terhadap sektor lain. Nah, di Indonesia belum ada. BI sendiri masih dalam proses pertemuan dengen rekan-rekan dari perpajakan mengingat sekarang ada revisi UU Perpajakan," papar Maulana.Sementara Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah Harisman menambahkan, pihaknya mencatat selama tahun 2004 ada 8 bank yang membuka usaha syariah. Ini menurutnya cukup spektakuler dimana pada tahun 1993-2004 ada 7 bank yang membuka unit syariah. Kedelapan bank yang membuka usaha syariah adalah dua bank umum yakni Bank Niaga dan bank Permata serta 6 BPD yakni BPD DKI, BPD Riau, BPD Kalsel, BPD Aceh, BPD Sumut dan BPD NTB. Untuk tahun 2005 Harisman belum bisa memprediksi berapa yang akan membuka usaha, tapi ada satu yang tengh dalam proses yakni BTN.BI lanjut Harisman, pada tahun 2005 juga akan membuat sejumlah penyesuaian ketentuan diantaranya CAR, tingkat kesehatan bank syariah dan ketentuan mengenai standardisasi akad, produk dan jasa bank syariah, ketentuan PSAK dan perbaikan ketentuan konversi bank umum konvensional (BUK) menjadi bank umum sentral dan pembukaan kantor syariah oleh BUK. Sementara Ketua Tim Regulasi dan Pengembangan Perbankan Syariah BI Mulia Siregar menambahkan, diperkirakan ada peningkatan total aset Bank Syariah hingga 70 persen yakni dari Rp 14 triliun pada athun 2004 menjadi Rp 24 triliun pada tahun 2005.
(qom/)











































