Tak Punya Cetak Biru Perbankan, Merger dan Akuisisi Berujung Polemik

Tak Punya Cetak Biru Perbankan, Merger dan Akuisisi Berujung Polemik

- detikFinance
Jumat, 18 Jul 2014 14:15 WIB
Tak Punya Cetak Biru Perbankan, Merger dan Akuisisi Berujung Polemik
Jakarta - Hingga saat ini, Indonesia tidak memiliki perencanaan yang jelas atau cetak biru terkait pengembangan perbankan nasional. Hasilnya, pemerintah tidak memiliki landasan yang kuat dalam pengembangan industri perbankan di tanah air.

Hal ini seperti terlihat dari sulitnya melakukan konsolidasi perbankan lewat penggabungan atau marger perbankan yang seringkali justru berakhir polemik.

Ketua Umum Perhimpuan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mencontohkan, hal tersebut seperti yang dialami saat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ingin menggabungkan PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mandiri akuisis BTN saja bisa dilihat hasilnya apa? Polemik, kemudian dipolitisasi, dibumbui isu-isu sehingga akhirnya gagal. Bayangkan saja ini untuk bank yang pemiliknya sama, sama-sama dimiliki negara atau pemerintah itu saja untuk menggabungkannya sulit sekali," kata

Sigit menyebut, sulitnya melakukan marger kedua bank tersebut dikarenakan keduanya sama-sama memiliki alasan yang kuat agar dapat mempertahankan kepemilikannya masing-masing.

Di sisi lain, tidak adanya turan perencanaan yang jelas dari pemerintah terkait penggabungan ini, membuat kedua bank semakin keras mempertahankan argumennya. Yang pada akhirnya, marger kedua bank gagal dilakukan.

"Ketika ada gagasan salah satu bank akuisis bank lain, orang ribut. Kenapa? Karena tidak ada dokumennya, mana perencanaannya? Kok tiba-tiba mau digabung dua bank," tutur dia.

Padahal, lanjut Sigit, perbankan Indonesia punya permasalahan terbesar yaitu masalah permodala. "Meskipun orang boleh berdebat tapi perlu diingat, dalam industri perbankan size does matter (ukuran adalah kuncinya). Bank yang besar ini akan menentukan untuk bisa bersaing atau tidak," sambungnya.

"Itulah makanya saya selalu katakan negeri ini harus punya rencana jangka panjang perbankan yang jelas. Dirumuskan dalam cetak biru nasional. Supaya tahu, bangsa ini bisa tahu ingin punya berapa bank sih Indonesia kedepannya. Ingin sebesar apa sih perbankan Indonesia," pungkas dia.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads