Ada 1.800 Bank di Indonesia, 60 Sudah Ditutup

Ada 1.800 Bank di Indonesia, 60 Sudah Ditutup

- detikFinance
Jumat, 18 Jul 2014 14:36 WIB
Ada 1.800 Bank di Indonesia, 60 Sudah Ditutup
Ilustrasi Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat sejak berdirinya lembaga ini hingga Juni 2014 sedikitnya ada 60 bank yang ditutup, 59 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 1 bank umum. Kondisi perbankan demikian dinilai LPS masih dalam keadaan sehat dan baik.

Ketua Dewan Komisaris LPS Heru C. Budiargo mengatakan, kondisi perbankan Indonesia saat ini masih dalam keadaan baik.

"Likuiditas, kredit, bagaimana mutu perbankan di Indonesia selama ini, kalau lihat buntut-buntutnya berapa bank yang ditutup dan diselamatkan, dalam kurun waktu 10 tahun dari 2004-2014 itu hanya 60 bank yang ditutup dari 1.800 bank dan hanya 1 bank yaitu Bank Century diselamatkan, ini menunjukkan bahwa dengan dinamika perekonomian yang fluktuatif, ketahanan industri perbankan di tanah air sangat baik," ujar dia di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (18/7/2014).

Dia menjelaskan, tumbangnya bank-bank tersebut lebih dikarenakan kesalahan pengaturan dan penyalahgunaan dari pemilik bank.

"Yang 60 bank ditutup itu kebanyakan bank kecil yang terjadi karena misconduct dari pengurus dan pemilik bank," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon menyebutkan, OJK dan LPS perlu bekerja sama dengan baik.

"Kita akan pertukarkan data-data perbankan yang betul-betul bisa dilakukan LPS terutama agregat dana pihak ketiga untuk penjaminan, masalah aset-aset yang menjadi tindaklanjut apabila bank ditutup, mulai kerjasama pemeriksanaan misal BPR. Kalau pemeriksaan bersama ke bank-bank yang sudah masuk pengawasan dan akan dicabut izin usahanya maka kita sudah dilakukan," kata Nelson.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad menambahkan, pihaknya bersama lembaga terkait terus melakukan koordinasi untuk melakukan pencegahan terjadinya krisis.

"Secara rutin koordinasi melalui FKSSK sudah sering kita lakukan. Kita mengembangkan beberapa stress testing, kita tidak bisa terpaku dan terpesona dengan data agregat, kita harus memperhatikan dana yang lebih detil, saya setuju krisis bisa datang dan pergi, makanya harus ada pencegahan, pemburukan bisa kita tanggulangi pada tingkat awal, kalau penanganan telambat maka penanganan biaya krisis semakin besar," pungkasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads