Deputi Komisioner Bidang Perbankan OJK Irwan Lubis mengungkapkan, investor strategis ini tidak hanya dari perbankan tetapi dimungkinkan dari lembaga keuangan lainnya. Saat ini, rencana masing-masing investor strategis tengah dalam proses penjajakan.
"Ini baru penjajakan. Mereka sedang mencari kesamaan model bisnisnya. Investor strategic lokal mau ambil 2 bank, yang asing juga mau ambil 2 bank. Asing ada dari Asia dan luar Asia," kata Irwan saat dihubungi detikFinance, Jumat (18/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investor strategis ini berencana mengambil masing-masing 2 bank. Nah, bank-bank ini rencana untuk dimerger. Ada investor domestik dan asing Mereka baru pembahasan," ujar dia.
Sejauh ini, Irwan menjelaskan, masing-masing pihak belum menyampaikan pengajuan secara resmi kepada OJK atas rencana tersebut.
"Mulai awal Juli mereka melakukan penjajakan. Sekarang masih tahap pembahasan belum sampai legal draft. Kalau mereka sudah MoU atau due diligence kita akan kasih gambaran. OJK tidak ikut campur, nanti kalau mereka sudah sepakat, baru kita akan infokan lebih detil," jelas dia.
Sebagian besar, kata Irwan, bank-bank yang akan diambil alih ini bank-bank berskala kecil, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang sudah masuk BUKU II.
"Kalau asing akuisisi bank maksimal kan 40%, kalau non bank 30%. Nanti kan ada pengaturan soal pemegang saham pengendali, fit and proper test. Bisa berubah jadi belum bisa memastikan, kemungkinan bisa lebih dari 4 bank, ini business to business. Sebagian bank kecil, ada bank BUKU 2," kata dia.
Irwan mengaku, adanya rencana pembelian bank nasional oleh asing ini menunjukkan jika perbankan Indonesia masih punya daya tarik yang tinggi. Kepercayaan investor baik lokal maupun asing juga masih terjaga.
Tak hanya itu, kata Irwan, yang paling penting adalah bagaimana Indonesia bisa mempunyai perbankan berskala besar salah satu caranya dengan konsolidasi melalui akuisisi atau merger. Ini untuk bisa bersaing dalam percaturan pasar bebas industri keuangan tahun 2020 mendatang.
"Ini artinya mereka punya trust, mereka melihat ada prospek di perbankan Indonesia. Mereka minat terhadap perbankan RI. Ini juga untuk pertumbuhan anorganik. Mereka sedang melakukan komunikasi, OJK tinggal nunggu pengajuan resmi dari mereka. Ini upaya mendorong konsolidasi perbankan dalam negeri, aset harus kuat, bank yang mau masuk juga harus punya internasional standar," pungkasnya.
(drk/ang)











































