Pemandangan antrean ini terlihat di Bank Indonesia Yogyakarta yang berada di Jl Senopati. Warga rela untuk antre sejak jam 5.00 WIB pagi, meski layanan penukaran uang baru buka jam 8.00 WIB. Nomor antrean yang disediakan BI pun habis dalam waktu cepat. Warga yang tak dapat nomor antrean pun pulang dengan kecewa.
Sri Suwarni (47), warga yang datang dari Pleret Bantul ini harus menunggu antrean dari Jam 5 pagi dan baru dipanggil sekitar jam 10.30 WIB. Baginya, mendapat uang baru untuk lebaran sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Meki antre, tetap diajalaninya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disti Prastiwi (19) mengaku juga mengantre dari jam 5 pagi. Ia menukarkan uang sebanyak Rp 3.900.000 dan uang tersebut dijual lagi. Dari penjualan uang baru ini, ia mengaku mengambil untung 5 persen.
Sementara, Sunarsih (62) warga Bantul ini harus kecewa karena kehabisan nomor antrean. Ia baru datang jam 10 pagi, dan nomor antrean dinyatakan sudah habis.
"Saya tidak tahu kalau dibatasi, jauh-jauh tapi sudah habis,"katanya dengan nada kecewa.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Arief Budi Santoso mengatakan, untuk melayani penukaran uang baru BI DIY telah menyiapkan dana Rp 3,5 triliun. Penukaran uang maksimal Rp 3,9 juta dengan pecahan 20 ribuan, 10 ribuan, 5 ribuan, dan 2 ribuan.
Untuk mengurangi penumpukan antrean di kantor BI DIY, pihaknya menggandeng 7 perbankan dan 18 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk membantu melayani penukaran uang kecil. Bank umum yang terlibat yaitu BPD DIY, Bank Mandiri, BCA, BRI, BRI Syariah, Bank Permata, dan BNI.
BI mengimbau warga untuk tidak menukarkan uangnya melalu perantara. Karena untuk menghindari berbagai risiko seperti kemungkinan uang palsu, pungutan biaya maupun tidak adanya jaminan ketepatam jumlah uang yang ditukar.
Sementara itu, di luar BI yakni di depan kantor BI sepanjang Jl Senopati, puluhan warga menjual jasa penukaran uang baru. Mereka mengambil untung berkisar 5 persen.
(dnl/dnl)











































