Likuiditas ketat, BCA Perkirakan Penyaluran Kredit Tak Capai Target

Likuiditas ketat, BCA Perkirakan Penyaluran Kredit Tak Capai Target

- detikFinance
Rabu, 23 Jul 2014 19:15 WIB
Likuiditas ketat, BCA Perkirakan Penyaluran Kredit Tak Capai Target
Jakarta - Kebijakan moneter yang cenderung ketat dan berkurangnya pasokan uang menyebabkan likuiditas di industri perbankan cukup ketat. Akibatnya, sejumlah bank mengerem penyaluran kredit mereka.

Salah satunya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, memperkirakan realisasi pertumbuhan kredit tahun ini tidak mencapai target yang ditetapkan.

"Ke depan, kita lihat secara umum apakah akan menambah penyaluran pinjaman. Tapi kalau dilihat kondisi likuiditas ketat, kemungkinan kita tidak akan mencapai target," kata Jahja di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (23/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jahja memprediksi, pertumbuhan kredit BCA tahun ini maksimal hanya 10%. Lebih rendah dibandingkan target yang dipatok yaitu 15%.

"Target awal kita pertumbuhan kredit bisa 15%. Tapi melihat situasi likuiditas ketat, sepertinya tidak bisa penuhi target itu. Mungkin hanya di kisaran 8-10%," ungkapnya.

Dengan penurunan ini, maka hingga akhir 2014 perseroan akan menyalurkan kredit baru sebesar Rp 24,98-31,23 triliun. Lebih rendah dari target yang ditetapkan yaitu Rp 46,8 triliun.

"Target awal bisa sekitar Rp 45 triliun lebih. Tapi sepertinya tidak sampai segitu. Namun kami belum mengubah RBB, kita pantau terus likuditas terkait bagaimana risiko kredit," tutur Jahja.

Hingga semester I-2014, BCA telah menyalurkan kredit baru sebesar Rp 9 triliun. Dengan demikian outstanding penyaluran kredit perseroan menjadi Rp 321,3 triliun.

BCA akan menggenjot penyaluran kredit di semester II tahun ini. Jahja optimistis BCA dapat tetap mencatatkan kinerja positif di sisa tahun ini dengan proyeksi permintaan kredit akan lebih tinggi di semester II, sama sperti tahun-tahun sebelumnya.

"Tidak boleh memberi indikasi, tapi paruh kedua tahun lalu kredit masih tinggi," ujarnya.

(hds/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads