Cerita Albert, Saldo Tabungan Rp 100.000 Masih Dipotong Biaya Admin

Cerita Albert, Saldo Tabungan Rp 100.000 Masih Dipotong Biaya Admin

- detikFinance
Rabu, 06 Agu 2014 18:18 WIB
Cerita Albert, Saldo Tabungan Rp 100.000 Masih Dipotong Biaya Admin
Jakarta - Berbagai cerita dan pengalaman pembaca yang menjadi nasabah bank masuk ke email redaksi. Banyak pembaca mengeluh saldo tabungannya menyusut karena dipotong biaya administrasi.

Salah satunya adalah Albert Maharso yang bercerita saldo tabungannya tergerus sampai tinggal Rp 40.000 saja. Begini cerita lengkapnya.

Albert merupakan nasabah di salah satu bank milik negara. Ia membuka rekening tabungan dengan angan-angan uangnya bisa aman sampai cukup untuk membeli kendaraan di kemudian hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sedikit demi sedikit penghasilan bersih saya sebagai pemilik kios pulsa selalu saya tabungkan dan jumlahnya pun tak seberapa hanya ratusan ribu rupiah saja tiap bulannya," katanya kepada detikFinance, Rabu (6/8/2014).

Sampai suatu hari, Albert mengalami musibah sampai terpaksa menarik seluruh uangnya yang berada di tabungan. Saldo tabungannya pun hanya di batas minimal, yaitu Rp 100.000.

Selang beberapa bulan kemudian, setelah kondisi finansialnya kembali membaik, Albert mulai berniat kembali menyetorkan uang ke rekening lamanya tersebut.

"Iseng-iseng sebelum ke bank saya coba cek saldo dulu lewat internet banking, ternyata saldo minimal Rp 100.000 yang saya tinggal sudah hampir ludes hanya tersisa Rp 40.000," ujarnya.

Ia pun melakukan pengecekan lebih lanjut melalui mutasi rekening, ternyata uang yang ia simpan di batas saldo minimal itu masih kena biaya administrasi bulanan ditambah biaya administrasi atas saldo minimal.

"Saya sendiri sampai bingung sudah disuruh simpan di batas saldo minimal kok masih dikenakan biaya saldo minimal sebagai denda jika saldo minimalnya berkurang," ucapnya.

Padahal, saldo rekening Albert tersebut bisa berkurang karena kena biaya administrasi, alias dipotong otomatis oleh bank. Ia pun merasa pihak bank seperti menyuruhnya menyetor uang lebih banyak lagi supaya tidak kena denda administrasi batas saldo minimal.

"Sejak saat itu atas saran teman, saya tidak meneruskan tabungan saya di bank tersebut. Saya biarkan saldonya habis dan tertutup sendiri secara otomatis," imbuhnya.

Ceritanya yang sama juga disampaikan pembaca bernama Gunawan Halim. Kejadian yang menimpa Gunawan ini terjadi ketika pertama kali ia membuka tabungan.

"Kejadian bermula dari tahun 1992, saat itu saya masih SD kelas 1 dan gemar menabung. Begitu punya uang Rp 1.000 pun langsung saya bergegas ke bank untuk menyimpannya. Pada masa itu ada promo bank, untuk pelajar tidak dikenakan biaya," ujar Gunawan.

Selama beberapa tahun ke depan, Gunawan terus menabung sampai saldonya mencapai Rp 600.000. Sampai pada akhirnya ia pindah kota, tabungannya pun terbengkalai.

Setelah dua tahun tinggal di kota lain, Gunawan pun kembali ke kota tempat ia membuka rekening di bank swasta nasional tersebut.

"Tapi apa yang terjadi? Saldo saya menjadi minus atau kurang dari Rp 0 rupiah. Saya pun heran. Apakah ini artinya saya berutang kepada bank? Katanya karena tidak ada transaksi dalam jangka waktu sekian bulan maka akan dipotong biaya karena dianggap tidak aktif lagi," katanya.

"Karena waktu itu saya masih kecil dan tidak bisa melawan, saya akhirnya merelakan tabungan saya semasa kecil itu," tambah Gunawan.

Ada juga pembaca yang mengeluhkan uangnya malah tidak bertambah setelah ditabung di bank dalam negeri. Hal tersebut dikemukakan pembaca bernama Almalik.

Ia mengaku punya tabungan di salah satu bank milik negara sebesar Rp 5 juta. Setelah dua bulan berselang, ia hendak menarik dananya tapi ternyata tabungannya malah berkurang. Merasa kecewa, akhirnya ia pun memindahkan uangnya ke tabungan yang bebas biaya administrasi bulanan.

"Untuk jangka pendek sekarang saya pakai tabungan di bank dengan fasilitas tanpa biaya admin tetapi untuk jangka panjang tdak disarankan untuk menabung di bank," kata Alamalik.

Apakah Anda punya pengalaman uang di rekening tabungan menguap habis dimakan berbagai biaya bank? Kirim pengalaman Anda ke redaksi@detikfinance.com.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads