Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, saat ini pertumbuhan perusahaan pembiayaan sedang mengalami perlambatan.
"Perusahaan pembiayaan mengalami perlambatan pertumbuhan. Aset Rp 412 triliun atau naik 3,03% dari akhir tahun. Pembiayaan Rp 360,9 triliun atau naik 3,7% dari akhir tahun. Ini diikuti tingkat kehati-hatian. NPF (kredit bermasalah) masih dinilai baik, meski mengalami kenaikan 1,47%," kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani saat ditemui di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, Selasa (12/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal 2014 banyak bencana, awal tahun berat, tapi saya yakin pelaku usaha bisa. Pertumbuhan industri kita sebelum 2013 di kisaran 24%, ke sini 15%, hingga akhir Mei 2014 tumbuh 14%," kata dia.
Selain itu, Suwandi menjelaskan, larangan aturan ekspor mineral mentah oleh pemerintah membuat penyaluran pembiayaan di sektor sewa guna usaha seperti pembiayaan alat berat mengalami penurunan.
"Pembiayaan sewa guna usaha banyak hambatan, Januari 2014 ada larangan eskpor minerba. Harga batubara belum juga membaik," ujarnya.
Ditambah lagi, kata Suwandi, kondisi politik yang saat ini belum menemui titik final terkait hasil pilpres.
"Pemilu juga, tapi walaupun masih ada tuntutan, harapan kita bisa mendapat harapan baru dan tentunya kita tunggu agar industri lebih baik. 2015 akan tetap tumbuh," tandasnya.
(drk/dnl)











































