"Untuk memperingati pengeluaran dan pengedaran uang, BI mengeluarkan pecahan khusus dalam bentuk uang kertas bersambung atau uncut bank notes," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Lambok Antonius Siahaan saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Senin (18/8/2014).
Dia menjelaskan, uang bersambung ini biasa dicari oleh kolektor uang. Jumlah dan harga yang ditawarkan lebih tinggi dari angka nominalnya. Uang bersambung ini memiliki nilai nominal pecahan Rp 100.000 Tahun Emisi 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah dan harga dasar 2 lembaran dicetak 5.000 lembar, nilai nomimal per lembaran Rp 200.000. Harga jual per lembaran Rp 500.000," kata Lambok.
Sementara untuk 5 lembaran dicetak sebanyak 5.000 lembar dan dijual dengan harga Rp 1 juta. "Jumlah 4 lembaran dicetak 5.000 lembar. Nilai nomimal per lembaran Rp 400.000. Harga jual perlembaran Rp 1 juta," ucap dia.
Sedangkan uang dengan jumlah lembaran 45 dicetak sebanyak 100 lembar dengan harga jual Rp 10 juta. "Nilai nominal per lembaran Rp 4,5 juta. Harga jual per lembaran Rp 10 juta," tambah Lambok.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ronald Waas menambahkan, uang bersambung ini dicetak untuk memenuhi kebutuhan kolektor. Uang ini dijual lebih mahal dari angka nominalnya dan dicetak terbatas.
"Uncut itu kan ketika dicetak satu lembar gede. Nanti ada yang dipotong jadi 4, ada yang 2. Itu kayak kenang-kenangan," katanya.
Uang bersambung, lanjut Ronald, merupakan salah satu barang yang disukai para pehobi numismatika. Karena statusnya sebagai collector's item, harganya pun jadi lebih mahal.
"Terbatas cetaknya dan kita jual, harga jual lebih mahal karena untuk kolektor. Seri sebelumnya tiap keluar Tahun Emisi (TE) baru ada uncut. Tujuannya untuk mendorong koleksi uang di Indonesia. Ada orang-orang yang selalu ngumpulin uang," paparnya.
(drk/hds)











































