4 Ahli Waris Proklamator Kemerdekaan RI Dapat Hadiah dari BI

4 Ahli Waris Proklamator Kemerdekaan RI Dapat Hadiah dari BI

- detikFinance
Senin, 18 Agu 2014 19:55 WIB
4 Ahli Waris Proklamator Kemerdekaan RI Dapat Hadiah dari BI
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memberi hadian khusus kepada empat ahli waris para proklamator kemerdekaan berupa uang kertas bersambung atau uncut bank notes. Uang bersambung ini bernominal Rp 100.000 Tahun Emisi 2014 alias uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keempat ahli waris tersebut adalah Puti Guntur Soekarno, Meutia Hatta, Gemala Hatta, dan Halida Hatta. Mereka adalah keturunan dari Soekarno dan Muhammad Hatta, proklamator kemerdekaan Indonesia.

"Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak datang begitu saja, datang dengan jalan begitu panjang. Kita sepatutnya menghargai para pahlawan melalui penghormatan simbol kedaulatan bangsa, salah satunya mata uang," kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Senin (18/8/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Uang kertas baru pecahan Rp 100.000 ini bergambar pahlawan RI Soekarno-Hatta. Uang ini mulai diedarkan pada tanggal 17 Agustus 2014 dan diedarkan di 31 kantor BI di seluruh Indonesia mulai hari ini.

Uang bersambung dicetak untuk pengembangan numismatika atau koleksi uang di Indonesia.

"Untuk memperingati pengeluaran dan pengedaran uang, BI mengeluarkan pecahan khusus dalam bentuk uang kertas bersambung atau uncut bank notes. Sebagaimana lazimnya pecahan uang sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI Lambok Antonius Siahaan.

Dia menjelaskan, uang bersambung ini biasa dicari oleh kolektor uang. Jumlah dan harga yang ditawarkan lebih tinggi dari angka nominalnya. Uang bersambung ini memiliki nilai nominal pecahan Rp 100.000 Tahun Emisi 2014.

Uang bersambung ini dicetak dalam 3 jenis yaitu jenis 2 lembaran, 5 lembaran, dan 45 lembaran pecahan Rp 100.000.

Lambok merinci, untuk uang 2 lembaran Rp 100.000 dicetak sebanyak 5.000 lembar dengan harga masing-masing Rp 500.000 per satuan.

"Jumlah dan harga dasar 2 lembaran dicetak 5.000 lembar, nilai nomimal per lembaran Rp 200.000. Harga jual perlembaran Rp 500.000," kata Lambok.

Sementara untuk 5 lembaran dicetak sebanyak 5.000 lembar dan dijual dengan harga Rp 1 juta. "Jumlah 4 lembaran dicetak 5.000 lembar. Nilai nomimal per lembaran Rp 400.000. Harga jual perlembaran Rp 1 juta," ucap dia.

Sedangkan uang dengan jumlah lembaran 45 dicetak sebanyak 100 lembar dengan harga jual Rp 10 juta. "Nilai nominal per lembaran Rp 4,5 juta. Harga jual per lembaran Rp 10 juta," tambah Lambok.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ronald Waas menambahkan, uang bersambung ini dicetak untuk memenuhi kebutuhan kolektor. Uang ini dijual lebih mahal dari angka nominalnya dan dicetak terbatas.

"Uncut itu kan ketika dicetak satu lembar gede. Nanti ada yang dipotong jadi 4, ada yang 2. Itu kayak kenang-kenangan," katanya.

Uang bersambung, lanjut Ronald, merupakan salah satu barang yang disukai para pehobi numismatika. Karena statusnya sebagai collector's item, harganya pun jadi lebih mahal.

"Terbatas cetaknya dan kita jual, harga jual lebih mahal karena untuk kolektor. Seri sebelumnya tiap keluar Tahun Emisi (TE) baru ada uncut. Tujuannya untuk mendorong koleksi uang di Indonesia. Ada orang-orang yang selalu ngumpulin uang," paparnya.

(drk/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads