"Jumlah bank Indonesia terlalu banyak, kita terlambat terus dalam melakukan konsolidasi. Kita banknya banyak yang kecil-kecil, jalan terbaik adalah konsolidasi, apakah merger atau akuisisi," kata Komisaris PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) Eko B Supriyanto saat acara seminar 'Konsolidasi Perbankan Menghadapi MEA 2020,' di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/8/2014).
Namun begitu, banyak masalah yang menghadang untuk mencapai konsolidasi, salah satunya terkait politik. Ditambah, masing-masing bank mempertahankan egonya untuk tetap berdiri sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh Eko mengatakan, perbankan Indonesia sepertinya memasuki lorong konsolidasi yang tiada henti-hentinya. Wacana konsolidasi bahkan sudah diungkapkan sejak 1988 ketika krisis perbankan terjadi.
"Tapi konsolidasi perbankan Indonesia ternyata paling lambat di seluruh ASEAN. Salah satunya karena adanya kekacauan politik. Bank yang akan diakuisisi larinya selalu pendekatan politik. Hal lainnya adalah karena bisnis bank cukup enak di Indonesia sehingga banyak yang tidak bersedia berkonsolidasi," ucapnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Gatot M Suwondo menambahkan, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sektor keuangan pada 2020 mendatang bukan hanya soal persaingan kemampuan perbankan. Perlu ada paksaan bagi negara-negara lain di ASEAN untuk membuka diri.
"Kalau bank di Indonesia bisa masuk ke negara-negara besar, harusnya bisa juga ke negara-negara seperti Myanmar, Laos, Vietnam, dan lain-lain di ASEAN. Jadi secara fundamental, bank-bank BUMN solid dan siap menghadapi MEA," katanya.
Menurut Gatot, tidak perlu ada penggabungan bank-bank BUMN untuk menghadapi MEA. "Daripada satu besar, lebih baik 4 bank kuat secara fundamental," katanya.
(drk/hds)











































