ADVERTISEMENT

Bakal ada 'ATM' Bitcoin di Bali, BI: Tidak Ada Izin

- detikFinance
Kamis, 04 Sep 2014 15:45 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) ikut menanggapi peredaran Bitcoin yang semakin marak di Bali. Apalagi sudah beredar voucher dan sebentar lagi 'ATM' Bitcoin di Pulau Dewata.

Menurut Juru Bicara BI Peter Jacobs, bank sentral tidak mengizinkan alat tukar selain rupiah untuk digunakan setiap transaksi di dalam negeri.

"Tidak boleh ada alat tukar lain selain rupiah. Termasuk Bitcoin. BI sudah melarang pengunaan dan peredarannya," katanya dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Kamis (4/9/2014).

Sehingga menurutnya tanggung jawab pengunaan mata uang digital alias cryptocurrency itu berada di masing-masing pengguna Bitcoin. Selain itu, BI juga belum memberikan izin atas rencana pembukaan ATM Bitcoin.

"Tidak ada izin ke BI mengenai penggunaan ATM Bitcoin," ujarnya.

Namun Pendiri sekaligus CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, mengatakan 'ATM' Bitcoin yang dimaksud berbeda dengan ATM konvensional yang diatur BI. Menurut Oscar, 'ATM' ini lebih menyerupai vending machine untuk membeli Bitcoin.

"Ini bentuknya seperti vending machine yang bisa digunakan untuk membeli Bitcoin," kata Oscar kepada detikFinance.

Selain 'ATM' Bitcoin, para pengguna mata uang yang nilainya selalu naik turun dalam rentang lebar ini juga bisa menggunakan fasilitas voucher yang bisa dibeli di kantor Bitcoin Indonesia.

Beberapa hotel dan restoran di Bali sudah mau menerima Bitcoin. Itu salah satu alasan penggunaan Bitcoin sudah cukup marak provinsi sebelah timur Pulau Jawa ini.

Bitcoin merupakan salah satu dari banyak cryptocurrency yang beredar di dunia maya, juga salah satu yang paling beken. Beberapa negara ada yang sudah menerima Bitcoin dengan merestui transaksi di beberapa perusahaan.

Namun ada beberapa negera yang menyatakan Bitcoin ilegal, salah satunya adalah Tiongkok. Pasalnya, nilai Bitcoin selalu berfluktuasi dalam rentang yang sangat lebar.

Tahun lalu saja, nilai Bitcoin sempat naik tinggi hingga lebih dari US$ 1.000 tapi hanya dalam beberapa hari nilainya langsung anjlok ke US$ 200 per bit. Mata uang ini juga sempat dianggap kontroversional karena sering digunakan untuk transaksi ilegal seperti jual beli narkoba, senjata, sampai nonton pertunjukan bugil secara live.

Sejumlah kontroversi sempat menaungi Bitcoin di awal tahun. Dimulai dari bangkrutnya Mt. Gox, sebuah perusahaan penukaran Bitcoin asal Jepang pada akhir Februari. Padahal 30% transaksi Bitcoin dunia dilakukan di perusahaan itu.

Tak lama kemudian giliran Flexcoin yang bangkrut. Perusahaan ini memang tak sebesar Mt. Gox. Namun situasi ini tak urung menimbulkan tanda tanya akan ketangguhan Bitcoin sebagai alat tukar.

Menurut Anda bagaimana, apakah Bitcoin bisa menjadi alat tukar masa depan yang praktis? Atau Bitcoin terlalu berbahaya dan tidak akan bertahan lama? Kirim pengalaman Bitcoin Anda ke redaksi@detikFinance.com.

(ang/dnl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT