Mengutip data Reuters, dolar diperdagangkan di posisi Rp 12.020. Ini merupakan level terlemah sejak 26 Juni 2014, yang kala itu dolar sempat berada di posisi Rp 12.098.
Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), mengatakan ada sejumlah penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah. Pertama adalah ketidakpastian global terkait kebijakan moneter bank sentral AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kedua, lanjut Destry, adalah peningkatan kebutuhan valas oleh perusahaan dalam negeri untuk pembayaran utang. Biasanya setiap akhir kuartal ada utang luar negeri yang jatuh tempo.
"Sekarang sudah mendekati akhir kuartal III. Ada demand valas yang cukup besar untuk pembayaran utang luar negeri perusahaan. Ini menyebabkan tekanan pada nilai tukar rupiah," paparnya.
Oleh karena itu, Destry memperkirakan tekanan terhadap rupiah kali ini tidak akan berlangsung lama. "Selepas September, demand valas akan berkurang dan dolar akan turun," ujarnya.
(hds/dnl)











































