Bank 'Perang' Bunga Deposito Sejak 2013, Berlomba-lomba Gaet Nasabah

Bank 'Perang' Bunga Deposito Sejak 2013, Berlomba-lomba Gaet Nasabah

- detikFinance
Senin, 22 Sep 2014 15:23 WIB
Bank Perang Bunga Deposito Sejak 2013, Berlomba-lomba Gaet Nasabah
Jakarta - Kondisi likuiditas di sektor keuangan masih akan ketat dalam beberapa waktu ke depan. Tingginya angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM), membengkaknya angka Current Account Deficit (CAD) atau neraca transaksi berjalan, serta rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan tingkat suku bunganya menjadi faktor yang mendorong kondisi ini.

Maka dari itu perbankan dalam negeri berlomba-lomba menaikkan suku bunga deposito demi menarik nasabah guna mengatasi kekeringan likuiditas. 'Perang' bunga ini sudah terjadi sejak 2013.

"Ini dari 2013 terjadi perang suku bunga. Kondisi likuiditas ketat sehingga bank berlomba-lomba untuk mengamankan likuiditas mereka dengan menawarkan suku bunga deposito tinggi, ini cara yang paling mudah," kata Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual saat dihubungi detikFinance, Senin (22/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi eksternal sangat berpengaruh, pemicunya juga karena defisit neraca transaksi berjalan masih besar, fiskal banyak terserap oleh pemerintah akibat membiayai subsidi BBM, jadi sebagian besar likuiditas dipakai oleh pemerintah," ujar dia.

David menjelaskan, ketatnya kondisi likuiditas ini memicu sektor perbankan untuk berlomba-lomba mencari dana segar lewat setoran nasabah. Bank-bank besar berani memberikan suku bunga deposito tinggi hingga 11% per tahun. Cara ini tak lain agar banyak nasabah mau menyimpan uangnya di perbankan sehingga arus likuiditas terus lancar.

Di sisi pemerintah, kata David, perlu adanya penerbitan obligasi untuk bisa mendapatkan dana segar. Obligasi pemerintah ini dinilainya akan mambantu melonggarkan likuiditas.

"Butuh penerbitan obligasi pemerintah yang besar untuk membantu mengurangi tekanan likuiditas. Apalagi investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FID) juga menurun ini mengurangi likuiditas dalam negeri," ungkapnya.

David menambahkan, pemerintah perlu segera menaikkan harga BBM yang menjadi salah satu tertekannya anggaran pemerintah dan mempengaruhi likuiditas dalam negeri.

Kebijakan menaikkan harga BBM akan bisa melonggarkan posisi likuiditas pemerintah.

"Selama CAD masih besar, beban subsidi masih tinggi, kondisi likuiditas masih akan ketat, jadi hal itu harus bisa diselesaikan dulu. Jangka pendek salah satunya naikin harga BBM, harus cepat dinaikkan untuk bisa melonggarkan, itu solusi paling cepat," pungkasnya.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads