Konglomerasi keuangan yang dimaksud adalah kelompok usaha besar yang bergerak di industri jasa keuangan dan saling memiliki keterkaitan satu sama lain, semacam Lehman Brothers di Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Pengembangan, Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK, Boedi Armanto menuturkan, sistem pengawasan dan manajemen risiko ini diuji coba kepada tiga grup konglomerasi keuangan yaitu Group Mandiri, Group Danamon dan Group Panin sebagai pilot project atau proyek percontohan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, dari hasil pelaksanaan proyek percontohan yang dimulai sejak awal tahun 2014 Juni 2014 kemarin masih ditemukan sejumlah kendala dalam hal pelaksanaan pengawasan. Kendala yang ada terutama terkait proses pengumpulan data dan informasi.
Ini diakibatkan, jenis usaha yang dilakukan pada grup lembaga keuangan ini sangat berfariasi darimulai perbankan, asuransi hingga investasi sehingga membutuhkan metode lebih khusus dalam hal pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan.
"Kalau di industri perbankan, semua data sudah otomatis, jadi kalau OJK perlu data apa sudah lebih gampang. Sementara di industri lain tidak seperti itu. Tapi karena kami melalukan pilot project bersama dengan industrinya, akhirnya datanya terkumpul juga. Mungkin itu yang perlu perbaiki untuk ke depannya," ucapnya.
Β
Dijelaskannya, dari pelaksanaan proyek percontohan ini didapat sejumlah indikator yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan dalam hal tata kelola terintegrasi pada group konglomerasi keuangan.
"Kami juga lebih kurang dapat memperkirakan kebutuhan modal konglomerasi keuangan akan bagaimana, dengan data yang sudah ada. Ke depan akan lebih complicated (rumit) lagi (bentuk data yang dikumpulkan)," sebut dia.
(ang/ang)











































