"Karena kalau tabungan dan deposito merupakan jangka pendek karena suatu waktu bisa diambil," katanya Senior Vice President and Head Network HSBC, Diza Larentie, dalam acara HSBC Wealth & Beyond Personal Economy Forum di Ritz Carlton, Pacific Place, Senin (13/10/2014).
Padahal menurut Diza, selain tabungan dan deposito masih banyak produk lainnya untuk saran mengembangkan uang. Apalagi bila tujuan keuangannya untuk biaya pendidikan anak, maka dua instrumen tersebut tidak cocok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka soal jumlah masyarakat yang menaruh uangnya di tabungan dan deposito sempat disampaikan oleh Director of Business Development PT Manulife Asset Manajemen Indonesia Putut Endro Andanawarih, yang pernah mengatakan berdasarkan survei yang dilakukan Manulife pada 2013, terhadap 500 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, 42% aset investor dialoksikan di dana tunai atau tabungan.
"Jadi hampir separuh dari kekayaan orang Indonesia itu ada di tabungan dan deposito," kata Putut November tahun lalu.
Putut menjelaskan, dana tunai masih menjadi pilihan investasi yang dominan di masyarakat Indonesia. Berdasarkan persentasenya, dalam kondisi pasar yang fluktuatif, dana tunai turunnya hanya 4,5%, jauh lebih rendah dari penurunan di sektor properti sebesar 22,1%, rumah turunnya 26,7%, pendapatan tetap turun 31,7%, reksa dana turun 160,9%, dan saham turun 281,8%.
"Dengan alasan itu dana tunai masih menjadi pilihan investasi yang paling tinggi, ini kondisi riil dari masyarakat Indonesia saat ini," ujarnya.
(hen/ang)











































